Senin, 28 Januari 2019

Hanya Sedekah Dua Paket Sarapan Pagi Membuat Hati Banyak Orang Tersentuh

Lisa adalah ibu rumah tangga dan mahasiswi semester akhir perguruan tinggi jurusan sosiologi. Dosen memberikan tugas akhir kepada para mahasiswa dengan tema "smiling". Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Lisa adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi pikir Lisa, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, Lisa bergegas menemui suami dan anaknya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.
Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami Lisa akan masuk dalam antrian, dia menyela dan meminta suami agar menemani anaknya sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika Lisa dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar Lisa menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang Lisa ikut keluar dari antrian. Lisa merasa panik dan bingung kenapa semua orang menyingkir. Saat berbalik itulah Lisa tahu mengapa orang menyingkir, yaitu bau badan kotor yang cukup menyengat, dan tepat di belakang Lisa berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Pada saat Lisa menoleh, tanpa sengaja menatap laki-laki yang lebih pendek dan tersenyum padanya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah Lisa, seolah ia meminta agar diterima 'kehadirannya' ditempat itu. Ia menyapa sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan Lisa membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh 'tugas' yang diberikan oleh dosennya.
Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Lisa baru sadar kalau lelaki kedua itu cacat mental. Lisa merasa prihatin setelah mengetahui ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal Lisa bersama mereka. Mereka bertiga tiba-tiba sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan apa yang ingin Lisa pesan, dia persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan satu cangkir kopi saja. Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Lisa merasa iba dan sempat terpaku beberapa saat, sambil mata Lisa mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, Lisa baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran juga sedang tertuju ke dirinya, dan pasti juga melihat semua sikapnya. Lisa baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin dia pesan. Dia tersenyum dan mulai pesan serta minta diberikan dua paket sarapan pagi dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, Lisa minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan ke meja/tempat duduk suami dan anaknya. Sementara Lisa membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Lisa meletakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangannya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil berucap : "Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap dalam-dalam ke arah Lisa, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata : "Terima kasih banyak, nyonya."
Sambil menepuk bahu lelaki tadi Lisa berkata : "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan telah menggerakkan saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan itu, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali Lisa merengkuh kedua lelaki itu. Lisa tidak dapat menahan tangis ketika berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anaknya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Suaminya mencoba meredakan tangis Lisa sambil tersenyum dan berkata : "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan keteduhan bagi diriku dan anak-anak. " Mereka bersyukur dan menyadari dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika Lisa sedang menyantap makanan bersama suami dan anak, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri mejanya, untuk sekedar ingin berjabat tangan.
Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan Lisa, dan berucap : "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Lisa hanya bisa berucap : "terima kasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran Lisa sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathinnya, mereka langsung menoleh kearah Lisa sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya.
Dalam perjalanan pulang Lisa merenung kembali apa yang telah diperbuat terhadap kedua orang tunawisma tadi benar-benar tidak pernah terpikir olehnya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepadanya betapa 'kasih sayang' itu sangat HANGAT dan INDAH sekali.
Lisa kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangannya. Dia menyerahkan 'cerita' itu kepada dosennya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya dipanggil dosen ke depan kelas minta ijin membagikan ceritanya kepada yang lain. Lisa dengan senang hati mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya, pak Dosen meminta perhatian dari kelas untuk membacakan cerita Lisa. Ia mulai membaca, para mahasiswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para mahasiswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para mahasiswa yang duduk di deretan belakang didekat Lisa datang memeluknya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan cerita tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang Lisa tulis diakhir cerita ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
Semoga cerita ini menggugah sobat agar saling menghargai sesama, saling tolong-menolong. MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA BENDA YANG KITA MILIKI, bukannya MENCINTAI HARTA BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Minggu, 27 Januari 2019

Cerita Semangkok Bakso Membuka Hati akan Kasih Sayang Orang Tua

Biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak,” lanjut tukang bakso.
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.
“Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.” keluh Putri.
“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.” bujuk abang bakso.
Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.” sambut ibunya.
“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
Nah, dari cerita di atas dapat diambil hikmah bahwa kebaikan yang sangat besar dari orang tua seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebaikan kecil dari orang lain. Seolah-olah orang tua berkewajiban selalu siap membantu. Orang tua mendidik, mengayomi kita penuh keikhlasan. Mari kita berpikir kapan bisa membalasnya kalau tidak mulai sekarang hormat dan tidak menyakiti orang tua. Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat.

HARAPAN, Sumber Kekuatan untuk Bertahan Hidup

Dikisahkan, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di kota ini. Dia membangun usaha mulai dari kecil dengan telaten. Karena kesabarannya, dia merasakan hasilnya dengan usahanya yang berkembang pesat. Tidak hanya usahanya, keluarga yang dimiliki juga sangat bahagia.
Tetapi tiba-tiba musibah terjadi, sang suami jatuh sakit yg cukup parah, satu per satu pabrik mereka dijual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan dan biaya hidup, karena sang pencari nafkah sedang terbaring tak berdaya. Nyawa pun tak dapat tertolong, sang suami akhirnya meninggal dunia. Hingga akhirnya ibu dan anaknya harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana.
Ujian belum berhenti, beberapa tahun kemudian rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar, karena warung kurang laku dan banyak biaya yang dikeluarkan untuk sekolah anaknya.
Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang ibu tua dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota.
“Cucunya sudah beberapa bu?” tanya orang yg masih mengenal masa lalunya berlimpah harta. Namun ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli : "Alhamdulillah sudah punya cucu dua pak."
Lalu seorang pembeli yg mengetahui kisah ibu penjual nasi itu memberanikan diri utk bertanya : “Wahai ibu, bagaimana ibu bisa sedemikian kuat?”
Si ibu tersenyum ramah lalu menjawab “HARAPAN nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah karena harapan, seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita belum tentu sempat memetik buahnya. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia”. Pembeli itupun merasa salut dan bangga pada semangat hidup ibu tadi. Pembeli baru mengerti bahwa kekayaan tidak bisa dijadikan ukuran semangat hidup.
Ibarat sebuah kendaraan, HARAPAN adalah bahan bakar dalam kehidupan kita. Kendaraan akan mati dan tidak bisa berjalan normal jika bahan bakarnya habis, begitupun kita jika kehilangan sebuah harapan. Semakin besar harapan seseorang, maka semakin kuatlah keyakinannya dalam melangkah. Bagaimana menurut sobat?

Jumat, 25 Januari 2019

Kesuksesan Seseorang Terletak pada Visinya

Di sebuah proyek perumahan seorang mandor sedang memeriksa tiga orang tukang bangunan. Tukang yang pertama ditanya oleh sang mandor, ”Pak, sekarang bapak mengerjakan apa?” Tukang tersebut menjawab singkat, “Saya sedang menyusun batu bata, pak.” Demikian penjelasan tukang pertama, persis seperti apa yang memang sedang ia kerjakan yaitu menyusun batu bata.
Kemudian sang mandor kemudian beralih ke tukang yang kedua dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?”. Kali ini jawaban sang tukang sedikit berbeda, “Saya sedang membangun sebuah tembok, pak.” Bahkan tukang yang kedua bisa menjelaskan panjang dan tinggi tembok tersebut serta di mana ia mulai dan kapan ia selesai membangunnya.
Terakhir, sang mandor menghampiri tukang yang ketiga dan kembali bertanya, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?” Maka tukang yang ketiga pun menjawab, “Saya sedang membangun sebuah rumah yang sangat indah, pak.” Selain itu, tukang yang ketiga ini pun bisa menjelaskan bentuk, ukuran dan warna rumah tersebut beserta bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah tersebut. Lebih dari itu, tukang ketiga ini pun mampu mengilustrasikan aktivitas-aktivitas yang bakal terjadi di rumah tersebut. “Pokoknya, rumah ini nantinya sangat bagus dan istimewa kalau sudah jadi, pak.”
Dari ketiga tukang tersebut bisa dibedakan cara mereka mengerjakan, rencana kedepannya. Itulah yang disebut VISI.
Tukang yang pertama tidak memiliki visi. Baginya yang penting adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyusun batu-bata.
Tukang yang kedua sudah memiliki visi namun visi yang dimilikinya masih sebatas membangun tembok.
Sebaliknya, Tukang yang ketiga memiliki visi yang sangat jelas mengenai seperti apa rumah yang sedang dibangunnya itu. Bukan hanya itu, tukang yang ketiga ini pun menyadari sepenuhnya bahwa dirinya merupakan bagian dari visi tersebut.
Nah sobat, seseorang bisa meraih kesuksesan dalam setiap usaha karena punya VISI yang kuat. Dengan visi, kita melakukan rencana, langkah apa yang akan dikerjakan dan target yang akan diraih. Itupun dilakukan dengan motivasi tinggi dan perasaan nyaman. Bukan begitu sob? Selamat & sukses.

Kamis, 24 Januari 2019

Ingin Terhindar dari Siksa Neraka, Baca Amalan yang Dikerjakan Sahabat Abdullah Bin Umar

Pada zaman Rasulullah SAW, jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan menceritakannya kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar RA, pergi ke masjid Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah membaca Al-Quran cukup lama, dia hendak tidur.
Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan dirinya dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa. Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.
Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan malaikat. Tanpa berkata apa-apa dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagaikan sumur yang menyalakan api berkobar-kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menaggung siksa yang tiada tara pedihnya.
Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”
Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka.”
Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpinya. Lalu dia pergi ke rumah Hafshah bin Umar, Istri Rasulullah SAW. Ia menceritakan perihal mimpinya dengan hati yang cemas.
Setelah itu Hafshah menemui Baginda Rasul dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu kepada Baginda Rasul. Seketika itu beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”
Mendengar sabda Nabi tersebut, Hafshah bergembira. Dia langsung menemui adiknya Abdullah bin Umar dan berkata, Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpi itu, malaikat terakhir yang kautemui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kauingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah shalat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam, waktu di mana Allah SWT memanggil-manggil hamba-Nya.
Apalagi jika dia juga mengingat sabda Nabi, “Sesungguhnya, penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kainya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.”
Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah agar termasuk hamba-hambanya yang terhindar dari siksa api neraka dan memperoleh kemenangan surga.
Akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pad malam hari.

Selasa, 22 Januari 2019

Pemimpin yang Bijak Dalam Menempatkan Suatu Perkara (Kisah Sahabat Rasul)

Usai sholat berjamaah Umar R.A. terbiasa duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi bersama para sahabat mendiskusikan sesuatu. Sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba datang 2 orang pemuda mengapit dan menyeret seorang pemuda.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin! Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".
Umar segera bangkit dan bertanya : "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata : "Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya : "Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan mu'ammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya di kota, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
Pemuda yang ayahnya dibunuh menyahut : "Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu."
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal pemuda yang satunya.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. Umar pun berkata : "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat."
Umar melanjutkan perkataannya : "Izinkan aku meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu."
Kedua pemuda masih dengan mata marah menyala memotong perkataan Umar : "Maaf Amirul Mukminin, kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa."
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah. Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tenggang 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash."
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
Pemuda lusuh menjawab : "Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
Umar berkata : "Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji."
Pemuda lusuh menimpali : "Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman."
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang : "Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman? Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini", hardik Umar marah.
Salman menjawab dengan tenang : "Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya."
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh tawakal berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan Muslimin tak ada lagi ksatria menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

Senin, 21 Januari 2019

Kebencian Seorang Anak pada Ibu yang Tak Bisa Dimaafkan

Ibuku cacat fisik, hanya memiliki satu mata. Ketika aku besar dan sekolah, aku membencinya karena hal itu. Aku benci karena menjadi bahan cemoohan ketika berada di sekolah. Aku benci ketika teman-teman sekolah menatap ibu dan memalingkan muka dengan jijik. Ibuku tanpa lelah bekerja untuk menafkahi keluarga, karena sewaktu kecil ayah sudah tiada. Tetapi aku justru malu dengan keadaannya dan tidak ingin terlihat sedang bersamanya.
Setiap kali ibu datang untuk mengunjungiku di sekolah, rasanya aku ingin dia menghilang. Aku merasa sangat benci dan risih terhadap wanita yang membuatku jadi bahan tertawaan di sekolah. Pada suatu waktu, aku luapkan kemarahan pada ibu dan mengatakan bahwa aku ingin dia mati. Aku benar-benar tidak peduli tentang perasaannya.
Setelah aku tumbuh dewasa, aku melakukan apapun untuk menjauh dari ibu. Aku belajar dengan keras dan mendapat pekerjaan jauh dari rumah, sehingga aku tidak akan bertemu dengannya. Aku menikah dan mulai membesarkan keluargaku sendiri. Aku sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, demi kehidupan yang nyaman untuk anak-anakku tercinta. Aku bahkan tidak memikirkan ibuku lagi.
Namun tidak disangka, ibuku datang untuk mengunjungi rumahku pada suatu hari. Wajah bermata satunya membuat anak-anak akut, dan mereka menangis dan menjerit. Aku marah pada ibuku karena muncul mendadak dan aku larang dia masuk. Kemudian aku berkata : “Jangan pernah kesini lagi dan mengganggu kehidupan keluargaku..!”. Aku berteriak, tapi ibu hanya diam dan meminta maaf, lalu pergi tanpa mampu berkata-kata lagi.
Pada suatu ketika, ada undangan reuni sekolah yang membawa aku kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun lamanya. Aku tidak bisa menolak berkendara melewati rumah masa kecilku dan mampir ke gubuk tua tersebut. Tetangga mengatakan kepadaku bahwa ibuku sudah meninggal dan meninggalkan surat untukku.
Begini isi surat ibu :
“Anakku sayang :
Ibu harus memulai surat ini dengan meminta maaf karena telah mengunjungi rumahmu tanpa pemberitahuan dan menakuti anak-anakmu yang cantik. Ibu juga sangat menyesal karena ibu adalah wanita yang memalukan dan sumber penghinaan bagimu, ketika kamu masih kecil sampai tumbuh dewasa.
Ibu sudah mengetahui bahwa kamu pasti akan datang kembali ke kota ini untuk reuni sekolah. Ibu mungkin tidak lagi berada di tempat ini ketika nanti kamu datang, dan ibu pikir itu adalah waktu yang tepat untuk memberitahumu sebuah kejadian ketika kamu masih kecil. Tapi mohon maaf sayang, ibu sebenarnya tidak mau mengungkit-ungkit kejadian itu, ibu cuma berharap supaya kamu selalu rendah hati.
Tahukah kamu, anakku sayang? Kamu mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan satu mata. Ibu sangat terpukul karena terus memikirkan bagaimana nasib anakku apabila anak ibu tercinta tumbuh hanya dengan satu mata. Ibu ingin kamu dapat melihat dunia yang indah dengan sempurna, jadi ibu memberikan padamu sebelah mata ibu.
Anakku sayang, ibu selalu memilikimu dan akan selalu mencintaimu dari lubuk hati ibu yang terdalam. Ibu tidak pernah menyesali keputusan ibu untuk memberikan mata ibu. Dan ibu merasa tenang ketika ibu mampu memberikan kamu kemampuan untuk menikmati hidup yang lengkap.
Dari : Ibumu tersayang.”
Setelah membaca surat dari ibu, air mataku menetes tak terasa. Aku sangat menyesal, dan terus menyesal seumur hidup tidak pernah sedikitpun bersikap baik pada ibu. Aku bahkan tega menghilang dari kehidupanku, padahal ibu selalu ada dengan kasih sayangnya. Aku tidak bisa membalas kebaikan dan berbakti pada ibu, aku sangatDURHAKA!

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...