Senin, 21 Januari 2019

Kebencian Seorang Anak pada Ibu yang Tak Bisa Dimaafkan

Ibuku cacat fisik, hanya memiliki satu mata. Ketika aku besar dan sekolah, aku membencinya karena hal itu. Aku benci karena menjadi bahan cemoohan ketika berada di sekolah. Aku benci ketika teman-teman sekolah menatap ibu dan memalingkan muka dengan jijik. Ibuku tanpa lelah bekerja untuk menafkahi keluarga, karena sewaktu kecil ayah sudah tiada. Tetapi aku justru malu dengan keadaannya dan tidak ingin terlihat sedang bersamanya.
Setiap kali ibu datang untuk mengunjungiku di sekolah, rasanya aku ingin dia menghilang. Aku merasa sangat benci dan risih terhadap wanita yang membuatku jadi bahan tertawaan di sekolah. Pada suatu waktu, aku luapkan kemarahan pada ibu dan mengatakan bahwa aku ingin dia mati. Aku benar-benar tidak peduli tentang perasaannya.
Setelah aku tumbuh dewasa, aku melakukan apapun untuk menjauh dari ibu. Aku belajar dengan keras dan mendapat pekerjaan jauh dari rumah, sehingga aku tidak akan bertemu dengannya. Aku menikah dan mulai membesarkan keluargaku sendiri. Aku sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, demi kehidupan yang nyaman untuk anak-anakku tercinta. Aku bahkan tidak memikirkan ibuku lagi.
Namun tidak disangka, ibuku datang untuk mengunjungi rumahku pada suatu hari. Wajah bermata satunya membuat anak-anak akut, dan mereka menangis dan menjerit. Aku marah pada ibuku karena muncul mendadak dan aku larang dia masuk. Kemudian aku berkata : “Jangan pernah kesini lagi dan mengganggu kehidupan keluargaku..!”. Aku berteriak, tapi ibu hanya diam dan meminta maaf, lalu pergi tanpa mampu berkata-kata lagi.
Pada suatu ketika, ada undangan reuni sekolah yang membawa aku kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun lamanya. Aku tidak bisa menolak berkendara melewati rumah masa kecilku dan mampir ke gubuk tua tersebut. Tetangga mengatakan kepadaku bahwa ibuku sudah meninggal dan meninggalkan surat untukku.
Begini isi surat ibu :
“Anakku sayang :
Ibu harus memulai surat ini dengan meminta maaf karena telah mengunjungi rumahmu tanpa pemberitahuan dan menakuti anak-anakmu yang cantik. Ibu juga sangat menyesal karena ibu adalah wanita yang memalukan dan sumber penghinaan bagimu, ketika kamu masih kecil sampai tumbuh dewasa.
Ibu sudah mengetahui bahwa kamu pasti akan datang kembali ke kota ini untuk reuni sekolah. Ibu mungkin tidak lagi berada di tempat ini ketika nanti kamu datang, dan ibu pikir itu adalah waktu yang tepat untuk memberitahumu sebuah kejadian ketika kamu masih kecil. Tapi mohon maaf sayang, ibu sebenarnya tidak mau mengungkit-ungkit kejadian itu, ibu cuma berharap supaya kamu selalu rendah hati.
Tahukah kamu, anakku sayang? Kamu mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan satu mata. Ibu sangat terpukul karena terus memikirkan bagaimana nasib anakku apabila anak ibu tercinta tumbuh hanya dengan satu mata. Ibu ingin kamu dapat melihat dunia yang indah dengan sempurna, jadi ibu memberikan padamu sebelah mata ibu.
Anakku sayang, ibu selalu memilikimu dan akan selalu mencintaimu dari lubuk hati ibu yang terdalam. Ibu tidak pernah menyesali keputusan ibu untuk memberikan mata ibu. Dan ibu merasa tenang ketika ibu mampu memberikan kamu kemampuan untuk menikmati hidup yang lengkap.
Dari : Ibumu tersayang.”
Setelah membaca surat dari ibu, air mataku menetes tak terasa. Aku sangat menyesal, dan terus menyesal seumur hidup tidak pernah sedikitpun bersikap baik pada ibu. Aku bahkan tega menghilang dari kehidupanku, padahal ibu selalu ada dengan kasih sayangnya. Aku tidak bisa membalas kebaikan dan berbakti pada ibu, aku sangatDURHAKA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...