Sebuah kisah seorang pria desa bernama Amin, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya untuk mencari kehidupan di kota. Dia berangkat mencari kerja dengan harapan memperbaiki kehidupan keluarganya.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Amin untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota demi keluarganya ternyata belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar kontrakan hingga ia tinggal ditempat temannya. Meskipun demikian, Amin tetap gigih mencari pekerjaan. Ia bekerja serabutan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di desa.
Bulan pertama berlalu sepi, bulan kedua semakin berat. Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kehidupan susah Amin tidak kunjung berakhir. Lima tahun dilalui dengan berat, Amin hidup berpindah-pindah dan bekerja dibawah terik matahari dan suasana kota yang tidak bersahabat. Tapi Amin tetap bertahan dalam kesabaran.
Kehidupan Amin terasa makin berat, pulang ke desa bukan pilihan terbaik. Ia sudah melangkah dan bertekad merubah kehidupan keluarganya. Amin tetap tabah dan tidak pernah lupa akan keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang walau sangat sedikit, sampai-sampai harus menahan lapar dan haus. Dia melewatkan harinya dengan puasa sambil terus melangkah mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di desa.
Amin juga sebagai manusia, ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu pada temannya. Sudah lima tahun ia berpindah-pindah kerja dan numpang di teman tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke desa. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itu sebenarnya ia tidak memiliki uang sepeserpun, walau sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik Amin memahami dan memberi sejumlah uang untuk beli satu tiket pulang kampung. Hari itu juga Amin berpamitan untuk pergi meninggalkan kota dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah agen untuk membeli tiket kereta ekonomi. Sayang, ternyata semua jadwal pemberangkatan hari itu penuh. Tiket hanya tersedia untuk kelas eksekutif saja. Akhirnya ia beli tiket untuk minggu berikutnya dan memesan saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal keberangkatan masih minggu depan.
Amin merasa kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun tak ada uang untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama, dia hampir terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Adzan dzuhur bergema, Amin bergegas menuju sebuah masjid. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang kemudian mengambil wudhu. Ia basahi wajahnya yang hitam karena terik matahari dan mengusap rambutnya yang kumal dengan air. Lalu ia masuk masjid shalat 2 rakaat untuk tahiyat masjid. Ia duduk menunggu shalat berjamaah. Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, terlepas dari beban yang menindihnya hingga hatinya tenang.
Setelah shalat usai, Amin masih bingung untuk memulai langkah. Pemberangkatan kereta masih seminggu lagi. Ia terdiam dan dilihatnya beberapa mushaf Al-Qur'an yang tersimpan rapi di pilar-pilar masjid. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca ta'awudz dan terus membaca Al-Qur'an hingga adzan Ashar tiba.
Selepas Maghrib ia masih disana, dan minta ijin takmir masjid untuk tinggal disana sampai jadwal pemberangkatan kereta. Amin membantu membersihkan masjid. Amin sudah terbiasa bangun pagi, ia adalah orang pertama yang terbangun didaerah sekitar masjid itu. Amin mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa-jiwa untuk shalat, membangunkan warga sekitar saat fajar menyingsing.
Adzannya memang khas. Bukan sebuah kebetulan jika banyak orang tertarik dan terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah. Karena adzan Amin jamaah shalat Subuh ramai. Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota ini.
Jadwal pemberangkatan kereta pun tiba. Ditiket tertulis jadwal berangkat pukul 04:23 WIB, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 03:30 WIB pagi atau satu jam sebelumnya. Amin bangun lebih awal dan pamit kepada takmir masjid. Ia naik angkot menuju stasiun yang hanya berjarak kurang dari 10 menit dari tempatnya.
Sesampai di stasiun Amin sudah duduk diruang tunggu. Ia melamun dan kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang ke desanya tanpa uang sedikitpun. Padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha maksimal. Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatan pada Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajibannya sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak-anaknya.
Saat melamunkan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil namanya. Suara itu datang dari speaker informasi stasiun. Ia diminta untuk datang ke bagian informasi. Iapun bergegas kesana diliputi perasaan cemas.
Sampai di bagian informasi, Amin langsung ditanya petugas : "Anda bapak Amin?"
Lantas Amin menjawab : "Ya pak, benar saya Amin."
Petugas berkata : "Ada orang mencari anda."
Petugas pun mempersilakan Amin menemui orang yang mencarinya. Amin merasa lega ternyata yang ditemui adalah takmir masjid, tapi sedikit heran kenapa mencarinya.
Selesai bersalaman, takmir masjid berkat : "Mas Amin, mari ke masjid dulu. Ada yang perlu dibicarakan."
Dalam kecemasan Amin menyahut : "Kereta sebentar lagi mau berangkat pak."
Takmir masjid menimpali : "Enggak apa-apa, nanti beli tiket lagi."
Amin dan takmir masjid pun bergegas keluar stasiun menuju masjid yang pernah disinggahinya. Sesampai di masjid ada seseorang menunggu, Amin diperkenalkan oleh takmir masjid. Orang tersebut bernama pak Ibrahim yang punya rumah tidak jauh dari masjid. Ia seorang pengusaha sukses di bidang real estate.
Takmir masjid menceritakan bahwa pak Ibrahim sangat tertarik dengan suara adzan yang ia lantunkan. Setiap kali Amin adzan, pak Ibrahim selalu bangun dan merasa terpanggil. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, pak Ibrahim merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang ke kampung halaman, pak Ibrahim langsung meminta takmir masjid segera menjemput Amin di stasiun.
Singkat cerita, Amin ditanya tentang alasan kenapa ia tergesa-gesa pulang ke desa.Amin pun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di kota ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Pak Ibrahim mengangguk-angguk dan bertanya: “Berapa gajimu dalam sebulan?” Amin kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan-bulan tanpa gaji.
Pak Ibrahim memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapat?” Dahi Amin berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya 700ribu rupiah pak ″, jawab Amin. Pak Ibrahim menoleh ke istrinya dan berkata : "Tolong kasih ke mas Amin bu." Istrinya langsung mengeluarkan sejumlah uang dan diserahkan ke Amin. Ternyata ditotal sebesar gaji Amin 700ribu dikali lima tahun, 42 juta rupiah.
Tubuh Amin bergetar melihat keajaiban dihadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Hamdalah, pak Ibrahim menghampiri dan memeluknya seraya berkata: “Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di desa. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Aku siapkan tiketnya untuk kamu kembali kesini, dan temui aku dirumah.”
Amin tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya bagi dirinya dan keluarganya. Amin menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini. Kesabarannya selama lima tahun diakhiri dengan cara yang indah.
Semua berubah dalam sekejap. Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Amin. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
Subhanallah.
Seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kita mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu berarti kita belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar