Sabtu, 09 Februari 2019

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa.
Menjelang ajal anak-anaknya dikumpulkan untuk mendengarkan wasiatnya.
"Anak-anakku, ayah merasa ajal sudah dekat. Jika ayah sudah dipanggil oleh yang Maha Kuasa, ayah ada permintaan untuk kalian."
"Tolong pakaikan sarung ayah yang lusuh itu. Karena sarung itu kenangan saat ayah masih berjuang. Ayah pakai setiap hari di mushola, berdoa supaya diberi keberhasilan. Alhamdulillah, sarung satu-satunya ayah waktu itu yang selalu memberi semangat."
"Ayah minta tolong sarung itu disertakan saat ayah dikubur."
Tidak berselang lama, beliau wafat. Meninggalkan kekayaan yang besar dan diwariskan untuk anak-anaknya. Ketika mengurus jenazah, anak-anaknya meminta kepada ustadz agar almarhum diperkenankan memakai sarung lusuh sesuai wasiat ayahnya.
Tetapi pak ustadz tidak setuju dengan keinginan anak-anak almarhum, "Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain yang boleh dikenakan pada mayat."
Maka terjadi perdebatan antara anak-anak dengan pak Ustadz. Anak-anak ingin memakaikan sarung sesuai wasiat almarhum ayahnya, dan pak ustadz memegang teguh hukum syariat tentang tata cara menangani mayat.
Karena belum ada kesepakatan, maka dipanggil penasihat perusahaan sekaligus notaris keluarga tersebut. Begitu notaris datang, dia menyampaikan catatan yang ditulis almarhum sebelum meninggal. Catatan itu diserahkan satu bulan yang lalu, "Mari kita baca catatan almarhum bersama-sama. Siapa tahun kita diberi petunjuk."
Dalam catatan, berikut isinya :
"Anak-anakku, pasti sekarang kalian sedang bingung karena dilarang memakaikan sarung sesuai wasiat ayah.
Lihatlah anak-anakku, harta yang ayah tinggalkan sangat banyak, rumah, uang, mobil, tanah, kebun dan sawah. Tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah meninggal dunia, bahkan sarung lusuh kenangan ayah pun tidak boleh dibawa.
Begitu tidak berartinya kekayaan dunia, kecuali keimanan dan ketaqwaan kita.
Anak-anakku inilah yang ingin ayah sampaikan tentang wasiat ini, kalian jangan tertipu dengan kemewahan dunia. Kehidupan dunia hanya sementara, nanti seperti ayah inilah kehidupan kekal.
Pada akhirnya teman sejati kita hanyalah iman dan amal shaleh.
Salam sayang ayah yang menginginkan kalian dunia sebagai jalan menuju Ridha Allah SWT, mudah2an kita bisa dipertemukan lagi di surga-Nya. Amin."
Semua yang membaca termasuk anak-anaknya, pak Ustadz, dan notaris merasa terharu dan tidak terasa air mata menetes.
Nah sobat, bahwa kekayaan di dunia hanya bersifat semu, kalau Tuhan berkehendak mencabutnya niscaya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Selama kita masih dititipi harta, mari kita gunakan ke jalan kebaikan. Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat. Amin.

Selasa, 05 Februari 2019

Kesabaran dan Pantang Mengeluh yang Membukakan Pintu Rejeki

Sebuah kisah seorang pria desa bernama Amin, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya untuk mencari kehidupan di kota. Dia berangkat mencari kerja dengan harapan memperbaiki kehidupan keluarganya.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Amin untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota demi keluarganya ternyata belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar kontrakan hingga ia tinggal ditempat temannya. Meskipun demikian, Amin tetap gigih mencari pekerjaan. Ia bekerja serabutan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di desa.
Bulan pertama berlalu sepi, bulan kedua semakin berat. Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kehidupan susah Amin tidak kunjung berakhir. Lima tahun dilalui dengan berat, Amin hidup berpindah-pindah dan bekerja dibawah terik matahari dan suasana kota yang tidak bersahabat. Tapi Amin tetap bertahan dalam kesabaran.
Kehidupan Amin terasa makin berat, pulang ke desa bukan pilihan terbaik. Ia sudah melangkah dan bertekad merubah kehidupan keluarganya. Amin tetap tabah dan tidak pernah lupa akan keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang walau sangat sedikit, sampai-sampai harus menahan lapar dan haus. Dia melewatkan harinya dengan puasa sambil terus melangkah mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di desa.
Amin juga sebagai manusia, ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu pada temannya. Sudah lima tahun ia berpindah-pindah kerja dan numpang di teman tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke desa. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itu sebenarnya ia tidak memiliki uang sepeserpun, walau sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik Amin memahami dan memberi sejumlah uang untuk beli satu tiket pulang kampung. Hari itu juga Amin berpamitan untuk pergi meninggalkan kota dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah agen untuk membeli tiket kereta ekonomi. Sayang, ternyata semua jadwal pemberangkatan hari itu penuh. Tiket hanya tersedia untuk kelas eksekutif saja. Akhirnya ia beli tiket untuk minggu berikutnya dan memesan saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal keberangkatan masih minggu depan.
Amin merasa kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun tak ada uang untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama, dia hampir terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Adzan dzuhur bergema, Amin bergegas menuju sebuah masjid. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang kemudian mengambil wudhu. Ia basahi wajahnya yang hitam karena terik matahari dan mengusap rambutnya yang kumal dengan air. Lalu ia masuk masjid shalat 2 rakaat untuk tahiyat masjid. Ia duduk menunggu shalat berjamaah. Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, terlepas dari beban yang menindihnya hingga hatinya tenang.
Setelah shalat usai, Amin masih bingung untuk memulai langkah. Pemberangkatan kereta masih seminggu lagi. Ia terdiam dan dilihatnya beberapa mushaf Al-Qur'an yang tersimpan rapi di pilar-pilar masjid. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca ta'awudz dan terus membaca Al-Qur'an hingga adzan Ashar tiba.
Selepas Maghrib ia masih disana, dan minta ijin takmir masjid untuk tinggal disana sampai jadwal pemberangkatan kereta. Amin membantu membersihkan masjid. Amin sudah terbiasa bangun pagi, ia adalah orang pertama yang terbangun didaerah sekitar masjid itu. Amin mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa-jiwa untuk shalat, membangunkan warga sekitar saat fajar menyingsing.
Adzannya memang khas. Bukan sebuah kebetulan jika banyak orang tertarik dan terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah. Karena adzan Amin jamaah shalat Subuh ramai. Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota ini.
Jadwal pemberangkatan kereta pun tiba. Ditiket tertulis jadwal berangkat pukul 04:23 WIB, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 03:30 WIB pagi atau satu jam sebelumnya. Amin bangun lebih awal dan pamit kepada takmir masjid. Ia naik angkot menuju stasiun yang hanya berjarak kurang dari 10 menit dari tempatnya.
Sesampai di stasiun Amin sudah duduk diruang tunggu. Ia melamun dan kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang ke desanya tanpa uang sedikitpun. Padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha maksimal. Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatan pada Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajibannya sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak-anaknya.
Saat melamunkan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil namanya. Suara itu datang dari speaker informasi stasiun. Ia diminta untuk datang ke bagian informasi. Iapun bergegas kesana diliputi perasaan cemas.
Sampai di bagian informasi, Amin langsung ditanya petugas : "Anda bapak Amin?"
Lantas Amin menjawab : "Ya pak, benar saya Amin."
Petugas berkata : "Ada orang mencari anda."
Petugas pun mempersilakan Amin menemui orang yang mencarinya. Amin merasa lega ternyata yang ditemui adalah takmir masjid, tapi sedikit heran kenapa mencarinya.
Selesai bersalaman, takmir masjid berkat : "Mas Amin, mari ke masjid dulu. Ada yang perlu dibicarakan."
Dalam kecemasan Amin menyahut : "Kereta sebentar lagi mau berangkat pak."
Takmir masjid menimpali : "Enggak apa-apa, nanti beli tiket lagi."
Amin dan takmir masjid pun bergegas keluar stasiun menuju masjid yang pernah disinggahinya. Sesampai di masjid ada seseorang menunggu, Amin diperkenalkan oleh takmir masjid. Orang tersebut bernama pak Ibrahim yang punya rumah tidak jauh dari masjid. Ia seorang pengusaha sukses di bidang real estate.
Takmir masjid menceritakan bahwa pak Ibrahim sangat tertarik dengan suara adzan yang ia lantunkan. Setiap kali Amin adzan, pak Ibrahim selalu bangun dan merasa terpanggil. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, pak Ibrahim merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang ke kampung halaman, pak Ibrahim langsung meminta takmir masjid segera menjemput Amin di stasiun.
Singkat cerita, Amin ditanya tentang alasan kenapa ia tergesa-gesa pulang ke desa.Amin pun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di kota ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Pak Ibrahim mengangguk-angguk dan bertanya: “Berapa gajimu dalam sebulan?” Amin kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan-bulan tanpa gaji.
Pak Ibrahim memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapat?” Dahi Amin berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya 700ribu rupiah pak ″, jawab Amin. Pak Ibrahim menoleh ke istrinya dan berkata : "Tolong kasih ke mas Amin bu." Istrinya langsung mengeluarkan sejumlah uang dan diserahkan ke Amin. Ternyata ditotal sebesar gaji Amin 700ribu dikali lima tahun, 42 juta rupiah.
Tubuh Amin bergetar melihat keajaiban dihadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Hamdalah, pak Ibrahim menghampiri dan memeluknya seraya berkata: “Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di desa. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Aku siapkan tiketnya untuk kamu kembali kesini, dan temui aku dirumah.”
Amin tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya bagi dirinya dan keluarganya. Amin menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini. Kesabarannya selama lima tahun diakhiri dengan cara yang indah.
Semua berubah dalam sekejap. Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Amin. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
Subhanallah.
Seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kita mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu berarti kita belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)

Senin, 04 Februari 2019

Anak yang Buta dan Pincang itu Bernama Anwar

Aku menikah pada usia 27 tahun, selang 4 bulan istriku mengandung. Masih ingat pada waktu itu, setiap malam aku begadang dengan teman-teman. Waktu semalaman diisi dengan cerita-cerita banyolan, ejekan, bahkan menghujat orang lain. Aku yang sering membuat mereka tertawa dengan menceritakan aib orang.
Aku bercerita bahwa kemarin mengejek seorang pengemis buta yang kebetulan berpapasan denganku. Aku sumpah serapah dengan kata-kata kotor, sambil aku dorong hingga ia goyah dan jatuh. Ia pun kebingungan mau membalas, cuma bisa menggerutu. Lelucon itu menyebabkan kawan-kawan terpingkal-pingkal. Nongkrong tak terasa sampai larut malam.
Aku pulang terlambat seperti biasa, dan aku dapati istriku masih menunggu tengah bersedih. Dia bertanya padaku : "Dari mana saja mas?" Aku menjawabnya dengan sinis : “Aku lelah.” Kekesalan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata sambil terisak : “Aku capek sekali, keliatannya waktu persalinanku sudah dekat.” Setelah itu dia diam dengan air mata menetes di pipi. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku karena sudah menginjak bulan kesembilan dari kehamilannya.
Selang beberapa hari istriku kesakitan, akhirnya aku segera membawanya ke rumah sakit dan masuk ke ruang bersalin. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kecapekan. Akhirnya aku pulang dengan meninggalkan nomor seluler di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.
Setelah beberapa saat mereka menghubungiku tentang kelahiran Anwar, istriku yang memberi nama. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Saat aku bertanya dimana kamar istri dan anakku, mereka memintaku menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya ingin melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”
Akhirnya aku menemui dokter, dan menjelaskan panjang lebar tentang persalinannya. Kemudian dia berbicara kepadaku tentang musibah yang dialami anakku dan menerima takdir : “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!” Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan diri. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong dan menertawakannya di hadapan banyak orang. Aku pun berterima kasih kepada dokter atas pelayanannya, lantas aku berlalu menemui istri dan anakku.
Aku lihat istriku tidak bersedih, dia ridha dan menerima kenyataan. Sebenarnya ia sering menasihatiku untuk tidak mengejek dan mentertawakan orang lain, hal itu tidak aku anggap. Karena sudah sehat, istri dan anakku Anwar boleh pulang.
Aku tak menghiraukan keadaan Anwar, Aku anggap dia tidak ada di rumah. Ketika dia menangis, aku malah pidah kamar dan tidur lagi. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa menerima kenyataan.
Anwar pun tumbuh besar dan mulai merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun dan mulai belajar berjalan, semakin jelas jika dia pincang. Bebanku semakin berat, mata Anwar buta ditambah pincang lagi. Beruntungnya dia tumbuh normal.
Dua tahun berlalu, istriku melahirkan anak yang normal yakni Ilyas. Perhatianku pada Ilyas sangat besar, sampai-sampai aku lupa kalau punya anak pertama Anwar. Aku berharap Ilyas lah yang nanti meneruskan usahaku.
Lima belas tahun berlalu seperti biasanya, Anwar dan Ilyas tumbuh makin besar. Kebiasaanku dari dulu tidak bisa hilang, seringkali aku menghabiskan waktu begadang bersama teman-teman. Istriku tidak pernah putus asa menasihatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku selama ini. Akan tetapi ia sangat sedih jika melihat perhatianku hanya pada Ilyas, sementara kepada Anwar tidak aku hiraukan.
Anwar sudah kelas 8 di sekolah khusus penyandang cacat, sementara Ilyas sudah kelas 6 di madrasah. Tak terasa aku lalui beberapa tahun hanya bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-teman.
Pada hari Jumat aku akan menghadiri resepsi. Aku bangun jam 11.00 siang, hal ini terlalu pagi bagiku, karena aku terbiasa bangun setelah dhuhur. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku bersiap-siap berangkat. Namun langkahku terhenti melihat wajah Anwar, dia menangis dan kebingungan. Ini pertama kali aku memperhatikan Anwar sejak masih kecil. Aku pura-pura tidak tahu, tapi dia terus memanggil ibunya. Lama-lama aku dekati dia dan berkata : "Anwar, mengapa kamu menangis?” Ketika mendengar suaraku dia langsung berhenti menangis. Karena aku berada didekatnya, ia bingung dan kikuk, seolah-olah ia berkata : "Sekarang bapak merasa aku ada. Dimana saja bapak selama 15 tahun?" Ia masuk kedalam kamar, aku pun mengikutinya. Ia tidak mau memberitahu kenapa dia menangis. Aku coba merayunya, akhirnya dia mau menjelaskan kenapa dia menangis.
Kalian tahu apa yang menjadi sebabnya?
Ternyata Ilyas belum pulang, sehingga terlambat mengantar Anwar shalat Jum'at di masjid. Dia memanggil Ilyas dan ibunya, ternyata tidak ada jawaban akhirnya dia menangis. Aku elus-elus kepalanya dan bertanya : “Hanya karena itu kamu menangis anakku?”
Dia menjawab : “Ya.”
Jawaban Anwar membuat aku lupa akan undangan resepsi pernikahan anak temanku.
Aku pun melanjutkan : “Anwar, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”
Dia berkata: “Dengan Ilyas pak, tetapi ia selalu terlambat.”
Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”
Anwar terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengejeknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya berkata : “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid.”
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku masuk masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lupakan selama ini. Kami pun berangkat menuju masjid, orang sudah banyak yang datang.
Setelah shalat Jum'at, Anwar memintaku mengambilkan mushaf Al-Qur'an. Aku merasa aneh, bagaimana bisa membacanya padahal ia buta? Aku hampir mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi aku takut melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf Al-Qur'an. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat Al-Kahfi. Aku bolak-balik lembaran, aku lihat daftar isinya. Seketika dia mengambil mushaf itu kemudian meletakkan dihadapanku. Aku berguman : “Ya Allah, bagaimana dia tahu surat Al-Kahfi, padahal aku cari-cari dari tadi tidak ketemu!” Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah, Dia telah hafal surat Al-Kahfi secara keseluruhan!
Aku malu pada diri sendiri. Aku pegang mushaf, aku rasakan seluruh anggota tubuhku menggigil. Aku baca dan terus kubaca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa menahan tangis. Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Anwar!! Aku dekap dia dan kuperhatikan. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, tetapi akulah yang buta. Aku telah lalai dan bersenang-senang sehingga menyeretku ke dalam api neraka.”
Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Anwar. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Anwar. Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman di masjid. Aku merasakan nikmatnya ibadah. 
Suatu hari, aku ada keperluan keluar kota. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku menghampiri Anwar dan memberitahunya. Dia langsung memegangku dengan kedua tangannya sebagai ungkapan selamat jalan. Aku berpamitan pada istriku dan langsung berangkat.
Aku telah meninggalkan rumah lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anak. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Anwar. Aku ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku sejak aku keluar kota. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubunginya.
Setiap kali aku ungkapkan kerinduanku pada Anwar, istriku tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah. Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Anwar.” Istriku menjawab : “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.
Akhirnya aku selesaikan usaha diluar kota, aku kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Anwar yang akan membukakan pintu itu. Ternyata yang membukakan pintu adalah Ilyas, aku peluk dia dan dia berkata tapi tak bisa diteruskan : “Bapak…kakak…”
Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah. Istriku menyambut dengan wajah seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat. Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”
Dia jawab : “Tidak apa-apa.”
Tiba-tiba aku teringat Anwar, maka aku bertanya lagi : “Dimana Anwar?”
Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.
Aku berteriak, "Anwar…! Di mana Anwar?”
Aku mendengar suara anakku Ilyas yang hanya bisa mengatakan: “Bapak…”
“Anwar telah melihat surga,” kata istriku.
Istriku tidak kuasa menahan tangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.
Aku tahu setelah itu, bahwa Anwar terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum aku pulang. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana dia tak tertolong. Aku merasa berdosa telah mengabaikan Anwar dari kecil, belum bisa membahagiakannya. Dia telah pergi selama-lamanya. Dia yang membukakan pintu hidayah, sehingga aku kembali kejalan yang benar. Aku tak bisa menangis, tapi air mata tak terasa menetes.

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...