Minggu, 27 Januari 2019

HARAPAN, Sumber Kekuatan untuk Bertahan Hidup

Dikisahkan, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di kota ini. Dia membangun usaha mulai dari kecil dengan telaten. Karena kesabarannya, dia merasakan hasilnya dengan usahanya yang berkembang pesat. Tidak hanya usahanya, keluarga yang dimiliki juga sangat bahagia.
Tetapi tiba-tiba musibah terjadi, sang suami jatuh sakit yg cukup parah, satu per satu pabrik mereka dijual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan dan biaya hidup, karena sang pencari nafkah sedang terbaring tak berdaya. Nyawa pun tak dapat tertolong, sang suami akhirnya meninggal dunia. Hingga akhirnya ibu dan anaknya harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana.
Ujian belum berhenti, beberapa tahun kemudian rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar, karena warung kurang laku dan banyak biaya yang dikeluarkan untuk sekolah anaknya.
Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang ibu tua dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota.
“Cucunya sudah beberapa bu?” tanya orang yg masih mengenal masa lalunya berlimpah harta. Namun ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli : "Alhamdulillah sudah punya cucu dua pak."
Lalu seorang pembeli yg mengetahui kisah ibu penjual nasi itu memberanikan diri utk bertanya : “Wahai ibu, bagaimana ibu bisa sedemikian kuat?”
Si ibu tersenyum ramah lalu menjawab “HARAPAN nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah karena harapan, seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita belum tentu sempat memetik buahnya. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia”. Pembeli itupun merasa salut dan bangga pada semangat hidup ibu tadi. Pembeli baru mengerti bahwa kekayaan tidak bisa dijadikan ukuran semangat hidup.
Ibarat sebuah kendaraan, HARAPAN adalah bahan bakar dalam kehidupan kita. Kendaraan akan mati dan tidak bisa berjalan normal jika bahan bakarnya habis, begitupun kita jika kehilangan sebuah harapan. Semakin besar harapan seseorang, maka semakin kuatlah keyakinannya dalam melangkah. Bagaimana menurut sobat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...