Lisa adalah ibu rumah tangga dan mahasiswi semester akhir perguruan tinggi jurusan sosiologi. Dosen memberikan tugas akhir kepada para mahasiswa dengan tema "smiling". Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Lisa adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi pikir Lisa, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, Lisa bergegas menemui suami dan anaknya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.
Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami Lisa akan masuk dalam antrian, dia menyela dan meminta suami agar menemani anaknya sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika Lisa dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar Lisa menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang Lisa ikut keluar dari antrian. Lisa merasa panik dan bingung kenapa semua orang menyingkir. Saat berbalik itulah Lisa tahu mengapa orang menyingkir, yaitu bau badan kotor yang cukup menyengat, dan tepat di belakang Lisa berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Pada saat Lisa menoleh, tanpa sengaja menatap laki-laki yang lebih pendek dan tersenyum padanya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah Lisa, seolah ia meminta agar diterima 'kehadirannya' ditempat itu. Ia menyapa sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan Lisa membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh 'tugas' yang diberikan oleh dosennya.
Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Lisa baru sadar kalau lelaki kedua itu cacat mental. Lisa merasa prihatin setelah mengetahui ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal Lisa bersama mereka. Mereka bertiga tiba-tiba sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan apa yang ingin Lisa pesan, dia persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan satu cangkir kopi saja. Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Lisa merasa iba dan sempat terpaku beberapa saat, sambil mata Lisa mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, Lisa baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran juga sedang tertuju ke dirinya, dan pasti juga melihat semua sikapnya. Lisa baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin dia pesan. Dia tersenyum dan mulai pesan serta minta diberikan dua paket sarapan pagi dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, Lisa minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan ke meja/tempat duduk suami dan anaknya. Sementara Lisa membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Lisa meletakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangannya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil berucap : "Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap dalam-dalam ke arah Lisa, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata : "Terima kasih banyak, nyonya."
Sambil menepuk bahu lelaki tadi Lisa berkata : "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan telah menggerakkan saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan itu, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali Lisa merengkuh kedua lelaki itu. Lisa tidak dapat menahan tangis ketika berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anaknya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Suaminya mencoba meredakan tangis Lisa sambil tersenyum dan berkata : "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan keteduhan bagi diriku dan anak-anak. " Mereka bersyukur dan menyadari dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika Lisa sedang menyantap makanan bersama suami dan anak, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri mejanya, untuk sekedar ingin berjabat tangan.
Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan Lisa, dan berucap : "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Lisa hanya bisa berucap : "terima kasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran Lisa sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathinnya, mereka langsung menoleh kearah Lisa sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya.
Dalam perjalanan pulang Lisa merenung kembali apa yang telah diperbuat terhadap kedua orang tunawisma tadi benar-benar tidak pernah terpikir olehnya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepadanya betapa 'kasih sayang' itu sangat HANGAT dan INDAH sekali.
Lisa kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangannya. Dia menyerahkan 'cerita' itu kepada dosennya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya dipanggil dosen ke depan kelas minta ijin membagikan ceritanya kepada yang lain. Lisa dengan senang hati mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya, pak Dosen meminta perhatian dari kelas untuk membacakan cerita Lisa. Ia mulai membaca, para mahasiswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para mahasiswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para mahasiswa yang duduk di deretan belakang didekat Lisa datang memeluknya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan cerita tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang Lisa tulis diakhir cerita ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
Semoga cerita ini menggugah sobat agar saling menghargai sesama, saling tolong-menolong. MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA BENDA YANG KITA MILIKI, bukannya MENCINTAI HARTA BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar