Aku menikah pada usia 27 tahun, selang 4 bulan istriku mengandung. Masih ingat pada waktu itu, setiap malam aku begadang dengan teman-teman. Waktu semalaman diisi dengan cerita-cerita banyolan, ejekan, bahkan menghujat orang lain. Aku yang sering membuat mereka tertawa dengan menceritakan aib orang.
Aku bercerita bahwa kemarin mengejek seorang pengemis buta yang kebetulan berpapasan denganku. Aku sumpah serapah dengan kata-kata kotor, sambil aku dorong hingga ia goyah dan jatuh. Ia pun kebingungan mau membalas, cuma bisa menggerutu. Lelucon itu menyebabkan kawan-kawan terpingkal-pingkal. Nongkrong tak terasa sampai larut malam.
Aku pulang terlambat seperti biasa, dan aku dapati istriku masih menunggu tengah bersedih. Dia bertanya padaku : "Dari mana saja mas?" Aku menjawabnya dengan sinis : “Aku lelah.” Kekesalan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata sambil terisak : “Aku capek sekali, keliatannya waktu persalinanku sudah dekat.” Setelah itu dia diam dengan air mata menetes di pipi. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku karena sudah menginjak bulan kesembilan dari kehamilannya.
Selang beberapa hari istriku kesakitan, akhirnya aku segera membawanya ke rumah sakit dan masuk ke ruang bersalin. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kecapekan. Akhirnya aku pulang dengan meninggalkan nomor seluler di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.
Setelah beberapa saat mereka menghubungiku tentang kelahiran Anwar, istriku yang memberi nama. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Saat aku bertanya dimana kamar istri dan anakku, mereka memintaku menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya ingin melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”
Akhirnya aku menemui dokter, dan menjelaskan panjang lebar tentang persalinannya. Kemudian dia berbicara kepadaku tentang musibah yang dialami anakku dan menerima takdir : “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!” Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan diri. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong dan menertawakannya di hadapan banyak orang. Aku pun berterima kasih kepada dokter atas pelayanannya, lantas aku berlalu menemui istri dan anakku.
Aku lihat istriku tidak bersedih, dia ridha dan menerima kenyataan. Sebenarnya ia sering menasihatiku untuk tidak mengejek dan mentertawakan orang lain, hal itu tidak aku anggap. Karena sudah sehat, istri dan anakku Anwar boleh pulang.
Aku tak menghiraukan keadaan Anwar, Aku anggap dia tidak ada di rumah. Ketika dia menangis, aku malah pidah kamar dan tidur lagi. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa menerima kenyataan.
Anwar pun tumbuh besar dan mulai merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun dan mulai belajar berjalan, semakin jelas jika dia pincang. Bebanku semakin berat, mata Anwar buta ditambah pincang lagi. Beruntungnya dia tumbuh normal.
Dua tahun berlalu, istriku melahirkan anak yang normal yakni Ilyas. Perhatianku pada Ilyas sangat besar, sampai-sampai aku lupa kalau punya anak pertama Anwar. Aku berharap Ilyas lah yang nanti meneruskan usahaku.
Lima belas tahun berlalu seperti biasanya, Anwar dan Ilyas tumbuh makin besar. Kebiasaanku dari dulu tidak bisa hilang, seringkali aku menghabiskan waktu begadang bersama teman-teman. Istriku tidak pernah putus asa menasihatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku selama ini. Akan tetapi ia sangat sedih jika melihat perhatianku hanya pada Ilyas, sementara kepada Anwar tidak aku hiraukan.
Anwar sudah kelas 8 di sekolah khusus penyandang cacat, sementara Ilyas sudah kelas 6 di madrasah. Tak terasa aku lalui beberapa tahun hanya bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-teman.
Pada hari Jumat aku akan menghadiri resepsi. Aku bangun jam 11.00 siang, hal ini terlalu pagi bagiku, karena aku terbiasa bangun setelah dhuhur. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku bersiap-siap berangkat. Namun langkahku terhenti melihat wajah Anwar, dia menangis dan kebingungan. Ini pertama kali aku memperhatikan Anwar sejak masih kecil. Aku pura-pura tidak tahu, tapi dia terus memanggil ibunya. Lama-lama aku dekati dia dan berkata : "Anwar, mengapa kamu menangis?” Ketika mendengar suaraku dia langsung berhenti menangis. Karena aku berada didekatnya, ia bingung dan kikuk, seolah-olah ia berkata : "Sekarang bapak merasa aku ada. Dimana saja bapak selama 15 tahun?" Ia masuk kedalam kamar, aku pun mengikutinya. Ia tidak mau memberitahu kenapa dia menangis. Aku coba merayunya, akhirnya dia mau menjelaskan kenapa dia menangis.
Kalian tahu apa yang menjadi sebabnya?
Ternyata Ilyas belum pulang, sehingga terlambat mengantar Anwar shalat Jum'at di masjid. Dia memanggil Ilyas dan ibunya, ternyata tidak ada jawaban akhirnya dia menangis. Aku elus-elus kepalanya dan bertanya : “Hanya karena itu kamu menangis anakku?”
Dia menjawab : “Ya.”
Jawaban Anwar membuat aku lupa akan undangan resepsi pernikahan anak temanku.
Aku pun melanjutkan : “Anwar, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”
Dia berkata: “Dengan Ilyas pak, tetapi ia selalu terlambat.”
Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”
Anwar terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengejeknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya berkata : “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid.”
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku masuk masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lupakan selama ini. Kami pun berangkat menuju masjid, orang sudah banyak yang datang.
Setelah shalat Jum'at, Anwar memintaku mengambilkan mushaf Al-Qur'an. Aku merasa aneh, bagaimana bisa membacanya padahal ia buta? Aku hampir mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi aku takut melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf Al-Qur'an. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat Al-Kahfi. Aku bolak-balik lembaran, aku lihat daftar isinya. Seketika dia mengambil mushaf itu kemudian meletakkan dihadapanku. Aku berguman : “Ya Allah, bagaimana dia tahu surat Al-Kahfi, padahal aku cari-cari dari tadi tidak ketemu!” Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah, Dia telah hafal surat Al-Kahfi secara keseluruhan!
Aku malu pada diri sendiri. Aku pegang mushaf, aku rasakan seluruh anggota tubuhku menggigil. Aku baca dan terus kubaca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa menahan tangis. Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Anwar!! Aku dekap dia dan kuperhatikan. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, tetapi akulah yang buta. Aku telah lalai dan bersenang-senang sehingga menyeretku ke dalam api neraka.”
Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Anwar. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Anwar. Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman di masjid. Aku merasakan nikmatnya ibadah.
Suatu hari, aku ada keperluan keluar kota. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku menghampiri Anwar dan memberitahunya. Dia langsung memegangku dengan kedua tangannya sebagai ungkapan selamat jalan. Aku berpamitan pada istriku dan langsung berangkat.
Aku telah meninggalkan rumah lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anak. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Anwar. Aku ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku sejak aku keluar kota. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubunginya.
Setiap kali aku ungkapkan kerinduanku pada Anwar, istriku tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah. Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Anwar.” Istriku menjawab : “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.
Akhirnya aku selesaikan usaha diluar kota, aku kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Anwar yang akan membukakan pintu itu. Ternyata yang membukakan pintu adalah Ilyas, aku peluk dia dan dia berkata tapi tak bisa diteruskan : “Bapak…kakak…”
Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah. Istriku menyambut dengan wajah seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat. Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”
Dia jawab : “Tidak apa-apa.”
Tiba-tiba aku teringat Anwar, maka aku bertanya lagi : “Dimana Anwar?”
Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.
Aku berteriak, "Anwar…! Di mana Anwar?”
Aku mendengar suara anakku Ilyas yang hanya bisa mengatakan: “Bapak…”
“Anwar telah melihat surga,” kata istriku.
Istriku tidak kuasa menahan tangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.
Aku tahu setelah itu, bahwa Anwar terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum aku pulang. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana dia tak tertolong. Aku merasa berdosa telah mengabaikan Anwar dari kecil, belum bisa membahagiakannya. Dia telah pergi selama-lamanya. Dia yang membukakan pintu hidayah, sehingga aku kembali kejalan yang benar. Aku tak bisa menangis, tapi air mata tak terasa menetes.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar