Tampilkan postingan dengan label SULUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SULUK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2013

PERJALANAN MENUJU ALLOH

KESUNGGUHAN DALAM MENCINTAI


  1. Al-Ghazali mengumpamakan jiwa manusia bagaikan cermin, Cermin yang mengkilap bisa saja menjadi hitam pekat jika tertutup oleh noda-noda hitam maksiat (dosa) yang diperbuat manusia (QS. Al-Muthaffifin 83 : 14). Apabila seseorang senantiasa menjaga kebersihannya, maka titik noda itu akan hilang dan niscaya cermin itu gampang menerima apa-apa yang bersifat suci dari pancaran Nur Ilahi, dan bahkan lebih dari itu, jiwa tadi akan memiliki kekuatan yang besar dan luar biasa.
  2. Memang diakui bahwa manusia dalam kehidupannya selalu dipengaruhi oleh hawa nafsunya yang selalu ingin menguasainya (QS. Yusuf : 53). Agar hawa nafsu seseorang dikuasai oleh akal yang telah mendapat bimbingan wahyu, maka dalam dunia tasawuf diajarkan berbagai cara, seperti riyadhah (latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh) sebagai sarana untuk melawan hawa nafsunya tadi. Cara pembinaannya melalui tiga tahapan, yakni tahap pembersihan dan pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela (takhalli), tahap kedua ialah penghiasan diri dengan sifat-sifat terpuji (tahalli) dan ketiga tercapainya sinar Ilahi (tajalli).
  3. Mahabbah adalah cinta, dan yang dimaksud adalah cinta kepada Alloh. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain sebagai berikut:
    • Memeluk kepatuhan pada Alloh dan membenci sikap melawan pada-Nya
    • Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
    • Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi, yang dimaksud dengan yang dikasihi disini ialah Alloh. 
Setiap manusia diciptakan sebagai individu yang bebas. Manusia diberi keleluasaan memilih jalan yang ditempuhnya, sebab manusia diberi kesempurnaan berupa hawa nafsu. Dengan hawa nafsu pula manusia melakukan olah pikir dan dapat menciptakan kebudayaan. Tetapi dalam perkembangannya manusia terlena dengan apa yang telah diraihnya, dan tanpa disadari lupa akan kodrat sebagai hamba. Hamba yang diberi bekal dalam melakukan perjalanan diri yang lahir menuju batin, perjalanan menuju Alloh / suluk.
Dalam melakukan suluk seperti apa yang dikatakan imam Al-Ghazali, manusia diliputi hawa nafsu. Hati diibaratkan sebuah cermin, jika nafsu yang mucul adalah kejelekan maka seakan noktah hitam menempel pada cermin tersebut. Noktah-noktah itu adalah hijab pada seseorang yang melakukan suluk. Dengan banyak ber-dzikir lah seseorang dapat menjaga hatinya tetap bersih, sehingga pancaran Nur Ilahi tak terhalang oleh dosa-dosa yang dilakukan hawa nafsu.
Tidak serta merta seseorang bisa menjaga agar hati tetap jernih seperti kemilau cermin, tetapi harus melalui latihan / riyadhah dengan sungguh-sungguh / mujahadah. Dalam melakukan latihan banyak sekali cara yang dilakukan, namun pada pokoknya terdiri dari tiga tahapan : takhalli, tahalli, dan tajalli.
Tahap awal adalah takhalli yaitu pembersiham diri dari sifat-sifat tercela, baik dalam bersikap maupun perbuatan. Seperti dikatakan diatas bahwa hati ibarat cermin, pada tahap ini seseorang melakukan pembersihan hati yang terhijab oleh dosa-dosa yang telah dilakukan dan Alloh pun sangat membeci kekotoran. Sehingga kondisi hati yang bersih itu diharapkan nantinya siap untuk menerima pancaran Nur Ilahi. Kalau kita mau menanam logisnya adalah menyiapkan lahan dengan baik.
Tahap kedua adalah tahalli yaitu menghiasi hati kita dengan kebajikan-kebajikan, karena alloh sangat menyukai akan keindahan. Dengan melakukan perbuatan kebajikan berarti seseorang telah menghiasi hatinya dan menjaga tetap bersih dari kotoran. Setelah menyiapkan lahan, kita olah lahan tersebut dan memberi pupuk supaya nanti tanaman tumbuh subur.
Tahap terakhir adalah tajalli yaitu bersemayamnya pancaran Nur Ilahi dalam hati dan tersingkapnya semua rahasia-rahasia. Pada tahap ini seseorang dapat merasakan nikmat yang hakiki, tersingkap semua rahasia penciptaan, asyik mashuk dalam kedekatan. Dan inilah buah dari perjalanan dengan sepenuh hati mujahadah, tiada daya upaya kecuali atas kehendak Alloh. Persiapan lahan yang baik dengan diiringi pengolahan yang bagus dan pemberian pupuk yang baik juga akan menghasilkan tanaman yang berbuah lebat. Disinilah tersingkap arti mahabbah yang sebenar-benarnya.



Diambil dari berbagai sumber.


Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...