Jumat, 18 Januari 2019

Perkataan Keras dan Kasar Seorang Ayah Akhirnya Berbuah Manis

Rina adalah seorang wanita karier yang sukses. Dia berjuang penuh disiplin dalam mengembangkan bisnisnya. Awalnya Rina usaha jual beli baju. Karena keteguhan dan ketelatenannya usaha tersebut makin maju, dan berkembang menjadi pabrik garmen.
Usaha yang dijalaninya tidak semulus yang diperkirakan banyak orang, halangan dan rintangan dihadapinya denganpenuh kesabaran. Sehingga Rina pun mengembangkan usaha di bidang lainnya, yakni perumahan. Rina beranggapan usaha ini tidak akan pernah berhenti, karena merupakan kebutuhan pokok.
Dalam kesuksesannya Rina merenung dan membayangkan saat dirinya masih kecil. Ada sosok yang sangat mempengaruhi sikap dan kesabarannya itu. Dialah sosok yang selalu diidolakan Rina, yakni AYAH.
Dia mengingat-ingat saat masih belia, ayah sering memarahi, melarang, dan sebagainya yang membuat dia jengkel. Tapi dia baru sadar hikmah dari sikap ayahnya waktu itu. Dia menerawang membayangkan masa lalunya.
Ibunya sering menelepon untuk menanyakan keadaannya waktu kuliah dulu, ternyata ayahnya yang mengingatkan ibunya untuk menelpon.
Waktu masih kecil, Ibunya lebih sering mengajak bercerita atau berdongeng, sepulang ayahnya bekerja dan dengan wajah lelah selalu menanyakan pada ibunya tentang kabarnya dan apa yang dilakukan seharian.
Waktu ayahnya mengajari naik sepeda dan mengganggapnya bisa, ayahnya melepaskan roda bantu di sepedanya. Ia ingat waktu itu ibunya bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”, Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Ayahnya dengan yakin akan membiarkan, menatap, dan menjaganya mengayuh sepeda dengan seksama karena tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat Rina merengek meminta boneka atau mainan yang baru, ibunya menatap iba. Tetapi ayahnya mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”. Rina baru tahu sebenarnya ayahnya melakukan itu karena tidak ingin putrinya menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.
Saat dia sakit pilek, ayahnya terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan ibunya yang memperhatikan dan menasihati dengan lembut. Dia sadar saat itu ayahnya benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.
Ketika Rina beranjak remaja, mulai menuntut pada ayahnya untuk dapat izin keluar malam, dan ayahnya bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Ternyata ayahnya melakukan semua itu untuk menjaga, karena putrinya adalah sesuatu yang sangat–sangat luar biasa berharga. Rina pun masuk ke kamar sambil membanting pintu, marah karena tidak mendapat ijin. Ibunya pun datang mengetok pintu dan membujuk agar tidak marah.
Rina mengerti bahwa saat itu ayahnya memejamkan mata dan menahan gejolak dalam batinnya, seakan-akan bilang "Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi ayah HARUS menjagamu nak".
Saat Rina mulai lebih dipercaya, dan ayahnya melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah, Rina melanggar jam malam. Ayahnya pasti duduk di ruang tamu, dan menunggunya pulang dengan hati yang sangat khawatir. Rina menyadari bahwa karena hal ini yang sangat ditakuti ayahnya akan segera datang “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”.
Ketika Rina menjadi gadis dewasa dan harus pergi kuliah dikota lain. Ayahnya harus melepas kepergiannya. Terasa badan ayahnya kaku untuk memeluk, hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruh untuk berhati-hati. Padahal ayahnya ingin sekali menangis seperti ibunya dan memeluk erat-erat, yang ayahnya lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundak Rina sambil berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Ayahnya melakukan itu semua agar Rina KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat Rina butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupannya, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayahnya. Ayahnya pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaannya bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan ayahnya tahu tidak bisa memberikan yang Rina inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya adalah : “Tidak. Tidak bisa!”. Padahal dalam batin ayahnya sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Saatnya Rina diwisuda sebagai seorang sarjana, ayahnya adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untuknya. Ayahnya tersenyum bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”.
Sampai saat seorang teman lelaki Rina datang ke rumah dan meminta izin pada ayahnya untuk mempersunting dirinya, ayahnya sangat berhati-hati memberikan izin. Karena ayahnya tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisi ayahnya nanti.
Dan akhirnya, saat ayahnya melihat Rina duduk di pelaminan bersama seseorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, ayahnya pun tersenyum bahagia. Di hari yang bahagia itu ayahnya pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis. Menangis karena sangat berbahagia, kemudian ayahnya berdoa :
“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya.”
Setelah itu ayahnya hanya bisa menunggu kedatangannya bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Ayahnya telah menyelesaikan tugas menjaganya.
Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Walaupun tidak kuat menahan tangis, dia harus terlihat tegar. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakan kita.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...