Jumat, 25 Januari 2019

Kesuksesan Seseorang Terletak pada Visinya

Di sebuah proyek perumahan seorang mandor sedang memeriksa tiga orang tukang bangunan. Tukang yang pertama ditanya oleh sang mandor, ”Pak, sekarang bapak mengerjakan apa?” Tukang tersebut menjawab singkat, “Saya sedang menyusun batu bata, pak.” Demikian penjelasan tukang pertama, persis seperti apa yang memang sedang ia kerjakan yaitu menyusun batu bata.
Kemudian sang mandor kemudian beralih ke tukang yang kedua dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?”. Kali ini jawaban sang tukang sedikit berbeda, “Saya sedang membangun sebuah tembok, pak.” Bahkan tukang yang kedua bisa menjelaskan panjang dan tinggi tembok tersebut serta di mana ia mulai dan kapan ia selesai membangunnya.
Terakhir, sang mandor menghampiri tukang yang ketiga dan kembali bertanya, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?” Maka tukang yang ketiga pun menjawab, “Saya sedang membangun sebuah rumah yang sangat indah, pak.” Selain itu, tukang yang ketiga ini pun bisa menjelaskan bentuk, ukuran dan warna rumah tersebut beserta bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah tersebut. Lebih dari itu, tukang ketiga ini pun mampu mengilustrasikan aktivitas-aktivitas yang bakal terjadi di rumah tersebut. “Pokoknya, rumah ini nantinya sangat bagus dan istimewa kalau sudah jadi, pak.”
Dari ketiga tukang tersebut bisa dibedakan cara mereka mengerjakan, rencana kedepannya. Itulah yang disebut VISI.
Tukang yang pertama tidak memiliki visi. Baginya yang penting adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyusun batu-bata.
Tukang yang kedua sudah memiliki visi namun visi yang dimilikinya masih sebatas membangun tembok.
Sebaliknya, Tukang yang ketiga memiliki visi yang sangat jelas mengenai seperti apa rumah yang sedang dibangunnya itu. Bukan hanya itu, tukang yang ketiga ini pun menyadari sepenuhnya bahwa dirinya merupakan bagian dari visi tersebut.
Nah sobat, seseorang bisa meraih kesuksesan dalam setiap usaha karena punya VISI yang kuat. Dengan visi, kita melakukan rencana, langkah apa yang akan dikerjakan dan target yang akan diraih. Itupun dilakukan dengan motivasi tinggi dan perasaan nyaman. Bukan begitu sob? Selamat & sukses.

Kamis, 24 Januari 2019

Ingin Terhindar dari Siksa Neraka, Baca Amalan yang Dikerjakan Sahabat Abdullah Bin Umar

Pada zaman Rasulullah SAW, jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan menceritakannya kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar RA, pergi ke masjid Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah membaca Al-Quran cukup lama, dia hendak tidur.
Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan dirinya dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa. Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.
Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan malaikat. Tanpa berkata apa-apa dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagaikan sumur yang menyalakan api berkobar-kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menaggung siksa yang tiada tara pedihnya.
Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”
Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka.”
Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpinya. Lalu dia pergi ke rumah Hafshah bin Umar, Istri Rasulullah SAW. Ia menceritakan perihal mimpinya dengan hati yang cemas.
Setelah itu Hafshah menemui Baginda Rasul dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu kepada Baginda Rasul. Seketika itu beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”
Mendengar sabda Nabi tersebut, Hafshah bergembira. Dia langsung menemui adiknya Abdullah bin Umar dan berkata, Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpi itu, malaikat terakhir yang kautemui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kauingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah shalat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam, waktu di mana Allah SWT memanggil-manggil hamba-Nya.
Apalagi jika dia juga mengingat sabda Nabi, “Sesungguhnya, penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kainya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.”
Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah agar termasuk hamba-hambanya yang terhindar dari siksa api neraka dan memperoleh kemenangan surga.
Akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pad malam hari.

Selasa, 22 Januari 2019

Pemimpin yang Bijak Dalam Menempatkan Suatu Perkara (Kisah Sahabat Rasul)

Usai sholat berjamaah Umar R.A. terbiasa duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi bersama para sahabat mendiskusikan sesuatu. Sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba datang 2 orang pemuda mengapit dan menyeret seorang pemuda.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin! Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".
Umar segera bangkit dan bertanya : "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata : "Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya : "Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan mu'ammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya di kota, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
Pemuda yang ayahnya dibunuh menyahut : "Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu."
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal pemuda yang satunya.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. Umar pun berkata : "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat."
Umar melanjutkan perkataannya : "Izinkan aku meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu."
Kedua pemuda masih dengan mata marah menyala memotong perkataan Umar : "Maaf Amirul Mukminin, kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa."
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah. Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tenggang 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash."
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
Pemuda lusuh menjawab : "Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
Umar berkata : "Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji."
Pemuda lusuh menimpali : "Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman."
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang : "Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman? Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini", hardik Umar marah.
Salman menjawab dengan tenang : "Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya."
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh tawakal berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan Muslimin tak ada lagi ksatria menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

Senin, 21 Januari 2019

Kebencian Seorang Anak pada Ibu yang Tak Bisa Dimaafkan

Ibuku cacat fisik, hanya memiliki satu mata. Ketika aku besar dan sekolah, aku membencinya karena hal itu. Aku benci karena menjadi bahan cemoohan ketika berada di sekolah. Aku benci ketika teman-teman sekolah menatap ibu dan memalingkan muka dengan jijik. Ibuku tanpa lelah bekerja untuk menafkahi keluarga, karena sewaktu kecil ayah sudah tiada. Tetapi aku justru malu dengan keadaannya dan tidak ingin terlihat sedang bersamanya.
Setiap kali ibu datang untuk mengunjungiku di sekolah, rasanya aku ingin dia menghilang. Aku merasa sangat benci dan risih terhadap wanita yang membuatku jadi bahan tertawaan di sekolah. Pada suatu waktu, aku luapkan kemarahan pada ibu dan mengatakan bahwa aku ingin dia mati. Aku benar-benar tidak peduli tentang perasaannya.
Setelah aku tumbuh dewasa, aku melakukan apapun untuk menjauh dari ibu. Aku belajar dengan keras dan mendapat pekerjaan jauh dari rumah, sehingga aku tidak akan bertemu dengannya. Aku menikah dan mulai membesarkan keluargaku sendiri. Aku sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, demi kehidupan yang nyaman untuk anak-anakku tercinta. Aku bahkan tidak memikirkan ibuku lagi.
Namun tidak disangka, ibuku datang untuk mengunjungi rumahku pada suatu hari. Wajah bermata satunya membuat anak-anak akut, dan mereka menangis dan menjerit. Aku marah pada ibuku karena muncul mendadak dan aku larang dia masuk. Kemudian aku berkata : “Jangan pernah kesini lagi dan mengganggu kehidupan keluargaku..!”. Aku berteriak, tapi ibu hanya diam dan meminta maaf, lalu pergi tanpa mampu berkata-kata lagi.
Pada suatu ketika, ada undangan reuni sekolah yang membawa aku kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun lamanya. Aku tidak bisa menolak berkendara melewati rumah masa kecilku dan mampir ke gubuk tua tersebut. Tetangga mengatakan kepadaku bahwa ibuku sudah meninggal dan meninggalkan surat untukku.
Begini isi surat ibu :
“Anakku sayang :
Ibu harus memulai surat ini dengan meminta maaf karena telah mengunjungi rumahmu tanpa pemberitahuan dan menakuti anak-anakmu yang cantik. Ibu juga sangat menyesal karena ibu adalah wanita yang memalukan dan sumber penghinaan bagimu, ketika kamu masih kecil sampai tumbuh dewasa.
Ibu sudah mengetahui bahwa kamu pasti akan datang kembali ke kota ini untuk reuni sekolah. Ibu mungkin tidak lagi berada di tempat ini ketika nanti kamu datang, dan ibu pikir itu adalah waktu yang tepat untuk memberitahumu sebuah kejadian ketika kamu masih kecil. Tapi mohon maaf sayang, ibu sebenarnya tidak mau mengungkit-ungkit kejadian itu, ibu cuma berharap supaya kamu selalu rendah hati.
Tahukah kamu, anakku sayang? Kamu mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan satu mata. Ibu sangat terpukul karena terus memikirkan bagaimana nasib anakku apabila anak ibu tercinta tumbuh hanya dengan satu mata. Ibu ingin kamu dapat melihat dunia yang indah dengan sempurna, jadi ibu memberikan padamu sebelah mata ibu.
Anakku sayang, ibu selalu memilikimu dan akan selalu mencintaimu dari lubuk hati ibu yang terdalam. Ibu tidak pernah menyesali keputusan ibu untuk memberikan mata ibu. Dan ibu merasa tenang ketika ibu mampu memberikan kamu kemampuan untuk menikmati hidup yang lengkap.
Dari : Ibumu tersayang.”
Setelah membaca surat dari ibu, air mataku menetes tak terasa. Aku sangat menyesal, dan terus menyesal seumur hidup tidak pernah sedikitpun bersikap baik pada ibu. Aku bahkan tega menghilang dari kehidupanku, padahal ibu selalu ada dengan kasih sayangnya. Aku tidak bisa membalas kebaikan dan berbakti pada ibu, aku sangatDURHAKA!

Sabtu, 19 Januari 2019

Dengan Segenggam Garam Tahu Cara Mengatasi Kesulitan

Ditempat yang teduh, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang kumal. Tamu itu tampak seperti orang yang tak bahagia.
Dengan tergesa-gesa pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua hanya mendengarkannya dengan seksama. Lantas ia mengambil segenggam garam, dan meminta pemuda untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..” ujar Pak tua. “Asin. Asin sekali pak”, jawab pemuda sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu sedikit tersenyum, lalu mengajak pemuda itu berjalan menuju telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua lantas menabur segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat pemuda selesai meneguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar pak.”, sahut pemuda itu.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si pemuda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung pemuda tadi. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” petuah Pak Tua.
Pak Tua kembali memberi nasehat : “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Pemuda pun berpikir, betapa berat kesulitan yang dihadapi terasa ringan kalau diterima dengan lapang dada, ikhlas dan tak pernah menyerah.

Jumat, 18 Januari 2019

Perkataan Keras dan Kasar Seorang Ayah Akhirnya Berbuah Manis

Rina adalah seorang wanita karier yang sukses. Dia berjuang penuh disiplin dalam mengembangkan bisnisnya. Awalnya Rina usaha jual beli baju. Karena keteguhan dan ketelatenannya usaha tersebut makin maju, dan berkembang menjadi pabrik garmen.
Usaha yang dijalaninya tidak semulus yang diperkirakan banyak orang, halangan dan rintangan dihadapinya denganpenuh kesabaran. Sehingga Rina pun mengembangkan usaha di bidang lainnya, yakni perumahan. Rina beranggapan usaha ini tidak akan pernah berhenti, karena merupakan kebutuhan pokok.
Dalam kesuksesannya Rina merenung dan membayangkan saat dirinya masih kecil. Ada sosok yang sangat mempengaruhi sikap dan kesabarannya itu. Dialah sosok yang selalu diidolakan Rina, yakni AYAH.
Dia mengingat-ingat saat masih belia, ayah sering memarahi, melarang, dan sebagainya yang membuat dia jengkel. Tapi dia baru sadar hikmah dari sikap ayahnya waktu itu. Dia menerawang membayangkan masa lalunya.
Ibunya sering menelepon untuk menanyakan keadaannya waktu kuliah dulu, ternyata ayahnya yang mengingatkan ibunya untuk menelpon.
Waktu masih kecil, Ibunya lebih sering mengajak bercerita atau berdongeng, sepulang ayahnya bekerja dan dengan wajah lelah selalu menanyakan pada ibunya tentang kabarnya dan apa yang dilakukan seharian.
Waktu ayahnya mengajari naik sepeda dan mengganggapnya bisa, ayahnya melepaskan roda bantu di sepedanya. Ia ingat waktu itu ibunya bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”, Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Ayahnya dengan yakin akan membiarkan, menatap, dan menjaganya mengayuh sepeda dengan seksama karena tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat Rina merengek meminta boneka atau mainan yang baru, ibunya menatap iba. Tetapi ayahnya mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”. Rina baru tahu sebenarnya ayahnya melakukan itu karena tidak ingin putrinya menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.
Saat dia sakit pilek, ayahnya terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan ibunya yang memperhatikan dan menasihati dengan lembut. Dia sadar saat itu ayahnya benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.
Ketika Rina beranjak remaja, mulai menuntut pada ayahnya untuk dapat izin keluar malam, dan ayahnya bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Ternyata ayahnya melakukan semua itu untuk menjaga, karena putrinya adalah sesuatu yang sangat–sangat luar biasa berharga. Rina pun masuk ke kamar sambil membanting pintu, marah karena tidak mendapat ijin. Ibunya pun datang mengetok pintu dan membujuk agar tidak marah.
Rina mengerti bahwa saat itu ayahnya memejamkan mata dan menahan gejolak dalam batinnya, seakan-akan bilang "Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi ayah HARUS menjagamu nak".
Saat Rina mulai lebih dipercaya, dan ayahnya melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah, Rina melanggar jam malam. Ayahnya pasti duduk di ruang tamu, dan menunggunya pulang dengan hati yang sangat khawatir. Rina menyadari bahwa karena hal ini yang sangat ditakuti ayahnya akan segera datang “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”.
Ketika Rina menjadi gadis dewasa dan harus pergi kuliah dikota lain. Ayahnya harus melepas kepergiannya. Terasa badan ayahnya kaku untuk memeluk, hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruh untuk berhati-hati. Padahal ayahnya ingin sekali menangis seperti ibunya dan memeluk erat-erat, yang ayahnya lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundak Rina sambil berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Ayahnya melakukan itu semua agar Rina KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat Rina butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupannya, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayahnya. Ayahnya pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaannya bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan ayahnya tahu tidak bisa memberikan yang Rina inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya adalah : “Tidak. Tidak bisa!”. Padahal dalam batin ayahnya sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Saatnya Rina diwisuda sebagai seorang sarjana, ayahnya adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untuknya. Ayahnya tersenyum bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”.
Sampai saat seorang teman lelaki Rina datang ke rumah dan meminta izin pada ayahnya untuk mempersunting dirinya, ayahnya sangat berhati-hati memberikan izin. Karena ayahnya tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisi ayahnya nanti.
Dan akhirnya, saat ayahnya melihat Rina duduk di pelaminan bersama seseorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, ayahnya pun tersenyum bahagia. Di hari yang bahagia itu ayahnya pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis. Menangis karena sangat berbahagia, kemudian ayahnya berdoa :
“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya.”
Setelah itu ayahnya hanya bisa menunggu kedatangannya bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Ayahnya telah menyelesaikan tugas menjaganya.
Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Walaupun tidak kuat menahan tangis, dia harus terlihat tegar. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakan kita.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

Kamis, 17 Januari 2019

Uang Receh yang Membuat Kita Mengerti Cara Bersyukur

Seorang sahabat Budiman menuturkan kisahnya. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru melangkah keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya dan menyodorkan selembar uang 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu memberi isyarat dengan jari-jari ke mulutnya seraya memandang putrinya. Kemudian pengemis itu memegang kepala putrinya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari ke mulut yang terkuncup , seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kamit tambahansedekah untuk bisa membeli makanan!"
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerakan tangan seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!" Ironisnya meski tidak menambah sedekahnya, istri dan putri Budiman malah mampir ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli camilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman riang dengan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Kemudian uang itu ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.
Ia pun lantas menghampiri wanita pengemis tadi. Saat wanita pengemis menerima uang, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan, "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga!"
Budiman tidak menyangka akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala mendengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga!". Deg! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan.
Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana. Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan, "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah." Awalnya istrinya tidak setuju ketika Budiman memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis tadi. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Buu, aku memberi sedekah kepadanya sebesar itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjang sekali ia berdoa!"
"Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah."
"Buu, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."
Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu.
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al Baqarah : 243)

Nah, tanggapan sobat gimana?

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...