Senin, 04 Februari 2019

Anak yang Buta dan Pincang itu Bernama Anwar

Aku menikah pada usia 27 tahun, selang 4 bulan istriku mengandung. Masih ingat pada waktu itu, setiap malam aku begadang dengan teman-teman. Waktu semalaman diisi dengan cerita-cerita banyolan, ejekan, bahkan menghujat orang lain. Aku yang sering membuat mereka tertawa dengan menceritakan aib orang.
Aku bercerita bahwa kemarin mengejek seorang pengemis buta yang kebetulan berpapasan denganku. Aku sumpah serapah dengan kata-kata kotor, sambil aku dorong hingga ia goyah dan jatuh. Ia pun kebingungan mau membalas, cuma bisa menggerutu. Lelucon itu menyebabkan kawan-kawan terpingkal-pingkal. Nongkrong tak terasa sampai larut malam.
Aku pulang terlambat seperti biasa, dan aku dapati istriku masih menunggu tengah bersedih. Dia bertanya padaku : "Dari mana saja mas?" Aku menjawabnya dengan sinis : “Aku lelah.” Kekesalan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata sambil terisak : “Aku capek sekali, keliatannya waktu persalinanku sudah dekat.” Setelah itu dia diam dengan air mata menetes di pipi. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku karena sudah menginjak bulan kesembilan dari kehamilannya.
Selang beberapa hari istriku kesakitan, akhirnya aku segera membawanya ke rumah sakit dan masuk ke ruang bersalin. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kecapekan. Akhirnya aku pulang dengan meninggalkan nomor seluler di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.
Setelah beberapa saat mereka menghubungiku tentang kelahiran Anwar, istriku yang memberi nama. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Saat aku bertanya dimana kamar istri dan anakku, mereka memintaku menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya ingin melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”
Akhirnya aku menemui dokter, dan menjelaskan panjang lebar tentang persalinannya. Kemudian dia berbicara kepadaku tentang musibah yang dialami anakku dan menerima takdir : “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!” Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan diri. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong dan menertawakannya di hadapan banyak orang. Aku pun berterima kasih kepada dokter atas pelayanannya, lantas aku berlalu menemui istri dan anakku.
Aku lihat istriku tidak bersedih, dia ridha dan menerima kenyataan. Sebenarnya ia sering menasihatiku untuk tidak mengejek dan mentertawakan orang lain, hal itu tidak aku anggap. Karena sudah sehat, istri dan anakku Anwar boleh pulang.
Aku tak menghiraukan keadaan Anwar, Aku anggap dia tidak ada di rumah. Ketika dia menangis, aku malah pidah kamar dan tidur lagi. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa menerima kenyataan.
Anwar pun tumbuh besar dan mulai merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun dan mulai belajar berjalan, semakin jelas jika dia pincang. Bebanku semakin berat, mata Anwar buta ditambah pincang lagi. Beruntungnya dia tumbuh normal.
Dua tahun berlalu, istriku melahirkan anak yang normal yakni Ilyas. Perhatianku pada Ilyas sangat besar, sampai-sampai aku lupa kalau punya anak pertama Anwar. Aku berharap Ilyas lah yang nanti meneruskan usahaku.
Lima belas tahun berlalu seperti biasanya, Anwar dan Ilyas tumbuh makin besar. Kebiasaanku dari dulu tidak bisa hilang, seringkali aku menghabiskan waktu begadang bersama teman-teman. Istriku tidak pernah putus asa menasihatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku selama ini. Akan tetapi ia sangat sedih jika melihat perhatianku hanya pada Ilyas, sementara kepada Anwar tidak aku hiraukan.
Anwar sudah kelas 8 di sekolah khusus penyandang cacat, sementara Ilyas sudah kelas 6 di madrasah. Tak terasa aku lalui beberapa tahun hanya bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-teman.
Pada hari Jumat aku akan menghadiri resepsi. Aku bangun jam 11.00 siang, hal ini terlalu pagi bagiku, karena aku terbiasa bangun setelah dhuhur. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku bersiap-siap berangkat. Namun langkahku terhenti melihat wajah Anwar, dia menangis dan kebingungan. Ini pertama kali aku memperhatikan Anwar sejak masih kecil. Aku pura-pura tidak tahu, tapi dia terus memanggil ibunya. Lama-lama aku dekati dia dan berkata : "Anwar, mengapa kamu menangis?” Ketika mendengar suaraku dia langsung berhenti menangis. Karena aku berada didekatnya, ia bingung dan kikuk, seolah-olah ia berkata : "Sekarang bapak merasa aku ada. Dimana saja bapak selama 15 tahun?" Ia masuk kedalam kamar, aku pun mengikutinya. Ia tidak mau memberitahu kenapa dia menangis. Aku coba merayunya, akhirnya dia mau menjelaskan kenapa dia menangis.
Kalian tahu apa yang menjadi sebabnya?
Ternyata Ilyas belum pulang, sehingga terlambat mengantar Anwar shalat Jum'at di masjid. Dia memanggil Ilyas dan ibunya, ternyata tidak ada jawaban akhirnya dia menangis. Aku elus-elus kepalanya dan bertanya : “Hanya karena itu kamu menangis anakku?”
Dia menjawab : “Ya.”
Jawaban Anwar membuat aku lupa akan undangan resepsi pernikahan anak temanku.
Aku pun melanjutkan : “Anwar, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”
Dia berkata: “Dengan Ilyas pak, tetapi ia selalu terlambat.”
Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”
Anwar terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengejeknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya berkata : “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid.”
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku masuk masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lupakan selama ini. Kami pun berangkat menuju masjid, orang sudah banyak yang datang.
Setelah shalat Jum'at, Anwar memintaku mengambilkan mushaf Al-Qur'an. Aku merasa aneh, bagaimana bisa membacanya padahal ia buta? Aku hampir mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi aku takut melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf Al-Qur'an. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat Al-Kahfi. Aku bolak-balik lembaran, aku lihat daftar isinya. Seketika dia mengambil mushaf itu kemudian meletakkan dihadapanku. Aku berguman : “Ya Allah, bagaimana dia tahu surat Al-Kahfi, padahal aku cari-cari dari tadi tidak ketemu!” Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah, Dia telah hafal surat Al-Kahfi secara keseluruhan!
Aku malu pada diri sendiri. Aku pegang mushaf, aku rasakan seluruh anggota tubuhku menggigil. Aku baca dan terus kubaca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa menahan tangis. Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Anwar!! Aku dekap dia dan kuperhatikan. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, tetapi akulah yang buta. Aku telah lalai dan bersenang-senang sehingga menyeretku ke dalam api neraka.”
Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Anwar. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Anwar. Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman di masjid. Aku merasakan nikmatnya ibadah. 
Suatu hari, aku ada keperluan keluar kota. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku menghampiri Anwar dan memberitahunya. Dia langsung memegangku dengan kedua tangannya sebagai ungkapan selamat jalan. Aku berpamitan pada istriku dan langsung berangkat.
Aku telah meninggalkan rumah lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anak. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Anwar. Aku ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku sejak aku keluar kota. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubunginya.
Setiap kali aku ungkapkan kerinduanku pada Anwar, istriku tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah. Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Anwar.” Istriku menjawab : “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.
Akhirnya aku selesaikan usaha diluar kota, aku kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Anwar yang akan membukakan pintu itu. Ternyata yang membukakan pintu adalah Ilyas, aku peluk dia dan dia berkata tapi tak bisa diteruskan : “Bapak…kakak…”
Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah. Istriku menyambut dengan wajah seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat. Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”
Dia jawab : “Tidak apa-apa.”
Tiba-tiba aku teringat Anwar, maka aku bertanya lagi : “Dimana Anwar?”
Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.
Aku berteriak, "Anwar…! Di mana Anwar?”
Aku mendengar suara anakku Ilyas yang hanya bisa mengatakan: “Bapak…”
“Anwar telah melihat surga,” kata istriku.
Istriku tidak kuasa menahan tangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.
Aku tahu setelah itu, bahwa Anwar terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum aku pulang. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana dia tak tertolong. Aku merasa berdosa telah mengabaikan Anwar dari kecil, belum bisa membahagiakannya. Dia telah pergi selama-lamanya. Dia yang membukakan pintu hidayah, sehingga aku kembali kejalan yang benar. Aku tak bisa menangis, tapi air mata tak terasa menetes.

Selasa, 29 Januari 2019

Sebuah Keikhlasan Berbuah Rejeki yang Tak Terduga

Hari ini cuaca sangat panas, mbah Pardi terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan demi menyambung hidup. Mbah Pardi sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan.
Bagi mbah Pardi setiap hari adalah hari kerja, tidak ada hari libur. Dimana ada peluang untuk menghasilkan, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengeluh.
Jam 11 siang, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan dan terlihat terburu-buru.
Ketika mbah Pardi menambal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
“Wah cepat sekali. Berapa pak?” tanya pemuda sambil memujinya.
“Lima ribu rupiah mas.” jawab mbah Pardi.
Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Pardi jelas kaget dan tentu tidak punya uang kembalian, apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.
“Aduh mas, gak ada uang pas ya?” tanya mbah Pardi.
“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak." jawab pemuda.
“Maaf Mas, saya nggak punya uang kembalian” ungkap mbah Pardi.
“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan.” lanjut pemuda itu.
“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.” mbah Pardi memaklumi.
“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.” lanjut pemuda itu sembari meninggalkan mbah Pardi.
Hari sudah berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Pardi. Dia cuma mendapatkan satu pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menguatkan dalam hatinya, 'Ikhlas. Insya Allah akan dapat gantinya'
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa : “Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezeki-Mu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendak-Mu.” Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Saat ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.
“Wah kebetulan kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.” kata pemuda sambil menyodorkan uang.
Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.
“Loh loh mas? Ini mas belum mecahkan uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?” tanya mbah Pardi keheranan.
“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya pak.” jelas pemuda itu.
“Tapi ini terlalu banyak mas” cegah mbah Pardi.
“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5.000,- pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.” pinta pemuda supaya mbah Pardi menerimanya.
Sobat, Tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-Nya yang mau berusaha dalam kesulitan. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.
Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan.
Kesuksesan akan menyertai keikhlasan dan rasa syukur.
Mari kita memaknai cerita di atas dengan selalu ikhlas dalam menjalankan setiap aktivitas, niscaya kita tidak terbebani akan keberhasilan. Hasil dari setiap aktivitas kita serahkan pada Maha Pemberi Rejeki.

Senin, 28 Januari 2019

Hanya Sedekah Dua Paket Sarapan Pagi Membuat Hati Banyak Orang Tersentuh

Lisa adalah ibu rumah tangga dan mahasiswi semester akhir perguruan tinggi jurusan sosiologi. Dosen memberikan tugas akhir kepada para mahasiswa dengan tema "smiling". Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Lisa adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi pikir Lisa, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, Lisa bergegas menemui suami dan anaknya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.
Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami Lisa akan masuk dalam antrian, dia menyela dan meminta suami agar menemani anaknya sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika Lisa dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar Lisa menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang Lisa ikut keluar dari antrian. Lisa merasa panik dan bingung kenapa semua orang menyingkir. Saat berbalik itulah Lisa tahu mengapa orang menyingkir, yaitu bau badan kotor yang cukup menyengat, dan tepat di belakang Lisa berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Pada saat Lisa menoleh, tanpa sengaja menatap laki-laki yang lebih pendek dan tersenyum padanya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah Lisa, seolah ia meminta agar diterima 'kehadirannya' ditempat itu. Ia menyapa sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan Lisa membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh 'tugas' yang diberikan oleh dosennya.
Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Lisa baru sadar kalau lelaki kedua itu cacat mental. Lisa merasa prihatin setelah mengetahui ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal Lisa bersama mereka. Mereka bertiga tiba-tiba sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan apa yang ingin Lisa pesan, dia persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan satu cangkir kopi saja. Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Lisa merasa iba dan sempat terpaku beberapa saat, sambil mata Lisa mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, Lisa baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran juga sedang tertuju ke dirinya, dan pasti juga melihat semua sikapnya. Lisa baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin dia pesan. Dia tersenyum dan mulai pesan serta minta diberikan dua paket sarapan pagi dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, Lisa minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan ke meja/tempat duduk suami dan anaknya. Sementara Lisa membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Lisa meletakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangannya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil berucap : "Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap dalam-dalam ke arah Lisa, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata : "Terima kasih banyak, nyonya."
Sambil menepuk bahu lelaki tadi Lisa berkata : "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan telah menggerakkan saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan itu, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali Lisa merengkuh kedua lelaki itu. Lisa tidak dapat menahan tangis ketika berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anaknya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Suaminya mencoba meredakan tangis Lisa sambil tersenyum dan berkata : "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan keteduhan bagi diriku dan anak-anak. " Mereka bersyukur dan menyadari dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika Lisa sedang menyantap makanan bersama suami dan anak, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri mejanya, untuk sekedar ingin berjabat tangan.
Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan Lisa, dan berucap : "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Lisa hanya bisa berucap : "terima kasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran Lisa sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathinnya, mereka langsung menoleh kearah Lisa sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya.
Dalam perjalanan pulang Lisa merenung kembali apa yang telah diperbuat terhadap kedua orang tunawisma tadi benar-benar tidak pernah terpikir olehnya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepadanya betapa 'kasih sayang' itu sangat HANGAT dan INDAH sekali.
Lisa kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangannya. Dia menyerahkan 'cerita' itu kepada dosennya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya dipanggil dosen ke depan kelas minta ijin membagikan ceritanya kepada yang lain. Lisa dengan senang hati mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya, pak Dosen meminta perhatian dari kelas untuk membacakan cerita Lisa. Ia mulai membaca, para mahasiswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para mahasiswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para mahasiswa yang duduk di deretan belakang didekat Lisa datang memeluknya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan cerita tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang Lisa tulis diakhir cerita ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
Semoga cerita ini menggugah sobat agar saling menghargai sesama, saling tolong-menolong. MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA BENDA YANG KITA MILIKI, bukannya MENCINTAI HARTA BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Minggu, 27 Januari 2019

Cerita Semangkok Bakso Membuka Hati akan Kasih Sayang Orang Tua

Biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak,” lanjut tukang bakso.
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.
“Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.” keluh Putri.
“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.” bujuk abang bakso.
Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.” sambut ibunya.
“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
Nah, dari cerita di atas dapat diambil hikmah bahwa kebaikan yang sangat besar dari orang tua seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebaikan kecil dari orang lain. Seolah-olah orang tua berkewajiban selalu siap membantu. Orang tua mendidik, mengayomi kita penuh keikhlasan. Mari kita berpikir kapan bisa membalasnya kalau tidak mulai sekarang hormat dan tidak menyakiti orang tua. Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat.

HARAPAN, Sumber Kekuatan untuk Bertahan Hidup

Dikisahkan, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di kota ini. Dia membangun usaha mulai dari kecil dengan telaten. Karena kesabarannya, dia merasakan hasilnya dengan usahanya yang berkembang pesat. Tidak hanya usahanya, keluarga yang dimiliki juga sangat bahagia.
Tetapi tiba-tiba musibah terjadi, sang suami jatuh sakit yg cukup parah, satu per satu pabrik mereka dijual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan dan biaya hidup, karena sang pencari nafkah sedang terbaring tak berdaya. Nyawa pun tak dapat tertolong, sang suami akhirnya meninggal dunia. Hingga akhirnya ibu dan anaknya harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana.
Ujian belum berhenti, beberapa tahun kemudian rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar, karena warung kurang laku dan banyak biaya yang dikeluarkan untuk sekolah anaknya.
Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang ibu tua dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota.
“Cucunya sudah beberapa bu?” tanya orang yg masih mengenal masa lalunya berlimpah harta. Namun ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli : "Alhamdulillah sudah punya cucu dua pak."
Lalu seorang pembeli yg mengetahui kisah ibu penjual nasi itu memberanikan diri utk bertanya : “Wahai ibu, bagaimana ibu bisa sedemikian kuat?”
Si ibu tersenyum ramah lalu menjawab “HARAPAN nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah karena harapan, seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita belum tentu sempat memetik buahnya. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia”. Pembeli itupun merasa salut dan bangga pada semangat hidup ibu tadi. Pembeli baru mengerti bahwa kekayaan tidak bisa dijadikan ukuran semangat hidup.
Ibarat sebuah kendaraan, HARAPAN adalah bahan bakar dalam kehidupan kita. Kendaraan akan mati dan tidak bisa berjalan normal jika bahan bakarnya habis, begitupun kita jika kehilangan sebuah harapan. Semakin besar harapan seseorang, maka semakin kuatlah keyakinannya dalam melangkah. Bagaimana menurut sobat?

Jumat, 25 Januari 2019

Kesuksesan Seseorang Terletak pada Visinya

Di sebuah proyek perumahan seorang mandor sedang memeriksa tiga orang tukang bangunan. Tukang yang pertama ditanya oleh sang mandor, ”Pak, sekarang bapak mengerjakan apa?” Tukang tersebut menjawab singkat, “Saya sedang menyusun batu bata, pak.” Demikian penjelasan tukang pertama, persis seperti apa yang memang sedang ia kerjakan yaitu menyusun batu bata.
Kemudian sang mandor kemudian beralih ke tukang yang kedua dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?”. Kali ini jawaban sang tukang sedikit berbeda, “Saya sedang membangun sebuah tembok, pak.” Bahkan tukang yang kedua bisa menjelaskan panjang dan tinggi tembok tersebut serta di mana ia mulai dan kapan ia selesai membangunnya.
Terakhir, sang mandor menghampiri tukang yang ketiga dan kembali bertanya, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?” Maka tukang yang ketiga pun menjawab, “Saya sedang membangun sebuah rumah yang sangat indah, pak.” Selain itu, tukang yang ketiga ini pun bisa menjelaskan bentuk, ukuran dan warna rumah tersebut beserta bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah tersebut. Lebih dari itu, tukang ketiga ini pun mampu mengilustrasikan aktivitas-aktivitas yang bakal terjadi di rumah tersebut. “Pokoknya, rumah ini nantinya sangat bagus dan istimewa kalau sudah jadi, pak.”
Dari ketiga tukang tersebut bisa dibedakan cara mereka mengerjakan, rencana kedepannya. Itulah yang disebut VISI.
Tukang yang pertama tidak memiliki visi. Baginya yang penting adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyusun batu-bata.
Tukang yang kedua sudah memiliki visi namun visi yang dimilikinya masih sebatas membangun tembok.
Sebaliknya, Tukang yang ketiga memiliki visi yang sangat jelas mengenai seperti apa rumah yang sedang dibangunnya itu. Bukan hanya itu, tukang yang ketiga ini pun menyadari sepenuhnya bahwa dirinya merupakan bagian dari visi tersebut.
Nah sobat, seseorang bisa meraih kesuksesan dalam setiap usaha karena punya VISI yang kuat. Dengan visi, kita melakukan rencana, langkah apa yang akan dikerjakan dan target yang akan diraih. Itupun dilakukan dengan motivasi tinggi dan perasaan nyaman. Bukan begitu sob? Selamat & sukses.

Kamis, 24 Januari 2019

Ingin Terhindar dari Siksa Neraka, Baca Amalan yang Dikerjakan Sahabat Abdullah Bin Umar

Pada zaman Rasulullah SAW, jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan menceritakannya kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar RA, pergi ke masjid Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah membaca Al-Quran cukup lama, dia hendak tidur.
Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan dirinya dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa. Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.
Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan malaikat. Tanpa berkata apa-apa dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagaikan sumur yang menyalakan api berkobar-kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menaggung siksa yang tiada tara pedihnya.
Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”
Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka.”
Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpinya. Lalu dia pergi ke rumah Hafshah bin Umar, Istri Rasulullah SAW. Ia menceritakan perihal mimpinya dengan hati yang cemas.
Setelah itu Hafshah menemui Baginda Rasul dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu kepada Baginda Rasul. Seketika itu beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”
Mendengar sabda Nabi tersebut, Hafshah bergembira. Dia langsung menemui adiknya Abdullah bin Umar dan berkata, Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpi itu, malaikat terakhir yang kautemui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kauingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah shalat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam, waktu di mana Allah SWT memanggil-manggil hamba-Nya.
Apalagi jika dia juga mengingat sabda Nabi, “Sesungguhnya, penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kainya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.”
Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah agar termasuk hamba-hambanya yang terhindar dari siksa api neraka dan memperoleh kemenangan surga.
Akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pad malam hari.

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...