Sabtu, 19 Januari 2019

Dengan Segenggam Garam Tahu Cara Mengatasi Kesulitan

Ditempat yang teduh, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang kumal. Tamu itu tampak seperti orang yang tak bahagia.
Dengan tergesa-gesa pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua hanya mendengarkannya dengan seksama. Lantas ia mengambil segenggam garam, dan meminta pemuda untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..” ujar Pak tua. “Asin. Asin sekali pak”, jawab pemuda sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu sedikit tersenyum, lalu mengajak pemuda itu berjalan menuju telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua lantas menabur segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat pemuda selesai meneguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar pak.”, sahut pemuda itu.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si pemuda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung pemuda tadi. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” petuah Pak Tua.
Pak Tua kembali memberi nasehat : “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Pemuda pun berpikir, betapa berat kesulitan yang dihadapi terasa ringan kalau diterima dengan lapang dada, ikhlas dan tak pernah menyerah.

Jumat, 18 Januari 2019

Perkataan Keras dan Kasar Seorang Ayah Akhirnya Berbuah Manis

Rina adalah seorang wanita karier yang sukses. Dia berjuang penuh disiplin dalam mengembangkan bisnisnya. Awalnya Rina usaha jual beli baju. Karena keteguhan dan ketelatenannya usaha tersebut makin maju, dan berkembang menjadi pabrik garmen.
Usaha yang dijalaninya tidak semulus yang diperkirakan banyak orang, halangan dan rintangan dihadapinya denganpenuh kesabaran. Sehingga Rina pun mengembangkan usaha di bidang lainnya, yakni perumahan. Rina beranggapan usaha ini tidak akan pernah berhenti, karena merupakan kebutuhan pokok.
Dalam kesuksesannya Rina merenung dan membayangkan saat dirinya masih kecil. Ada sosok yang sangat mempengaruhi sikap dan kesabarannya itu. Dialah sosok yang selalu diidolakan Rina, yakni AYAH.
Dia mengingat-ingat saat masih belia, ayah sering memarahi, melarang, dan sebagainya yang membuat dia jengkel. Tapi dia baru sadar hikmah dari sikap ayahnya waktu itu. Dia menerawang membayangkan masa lalunya.
Ibunya sering menelepon untuk menanyakan keadaannya waktu kuliah dulu, ternyata ayahnya yang mengingatkan ibunya untuk menelpon.
Waktu masih kecil, Ibunya lebih sering mengajak bercerita atau berdongeng, sepulang ayahnya bekerja dan dengan wajah lelah selalu menanyakan pada ibunya tentang kabarnya dan apa yang dilakukan seharian.
Waktu ayahnya mengajari naik sepeda dan mengganggapnya bisa, ayahnya melepaskan roda bantu di sepedanya. Ia ingat waktu itu ibunya bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”, Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Ayahnya dengan yakin akan membiarkan, menatap, dan menjaganya mengayuh sepeda dengan seksama karena tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat Rina merengek meminta boneka atau mainan yang baru, ibunya menatap iba. Tetapi ayahnya mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”. Rina baru tahu sebenarnya ayahnya melakukan itu karena tidak ingin putrinya menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.
Saat dia sakit pilek, ayahnya terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan ibunya yang memperhatikan dan menasihati dengan lembut. Dia sadar saat itu ayahnya benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.
Ketika Rina beranjak remaja, mulai menuntut pada ayahnya untuk dapat izin keluar malam, dan ayahnya bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Ternyata ayahnya melakukan semua itu untuk menjaga, karena putrinya adalah sesuatu yang sangat–sangat luar biasa berharga. Rina pun masuk ke kamar sambil membanting pintu, marah karena tidak mendapat ijin. Ibunya pun datang mengetok pintu dan membujuk agar tidak marah.
Rina mengerti bahwa saat itu ayahnya memejamkan mata dan menahan gejolak dalam batinnya, seakan-akan bilang "Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi ayah HARUS menjagamu nak".
Saat Rina mulai lebih dipercaya, dan ayahnya melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah, Rina melanggar jam malam. Ayahnya pasti duduk di ruang tamu, dan menunggunya pulang dengan hati yang sangat khawatir. Rina menyadari bahwa karena hal ini yang sangat ditakuti ayahnya akan segera datang “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”.
Ketika Rina menjadi gadis dewasa dan harus pergi kuliah dikota lain. Ayahnya harus melepas kepergiannya. Terasa badan ayahnya kaku untuk memeluk, hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruh untuk berhati-hati. Padahal ayahnya ingin sekali menangis seperti ibunya dan memeluk erat-erat, yang ayahnya lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundak Rina sambil berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Ayahnya melakukan itu semua agar Rina KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat Rina butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupannya, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayahnya. Ayahnya pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaannya bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan ayahnya tahu tidak bisa memberikan yang Rina inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya adalah : “Tidak. Tidak bisa!”. Padahal dalam batin ayahnya sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Saatnya Rina diwisuda sebagai seorang sarjana, ayahnya adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untuknya. Ayahnya tersenyum bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”.
Sampai saat seorang teman lelaki Rina datang ke rumah dan meminta izin pada ayahnya untuk mempersunting dirinya, ayahnya sangat berhati-hati memberikan izin. Karena ayahnya tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisi ayahnya nanti.
Dan akhirnya, saat ayahnya melihat Rina duduk di pelaminan bersama seseorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, ayahnya pun tersenyum bahagia. Di hari yang bahagia itu ayahnya pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis. Menangis karena sangat berbahagia, kemudian ayahnya berdoa :
“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya.”
Setelah itu ayahnya hanya bisa menunggu kedatangannya bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Ayahnya telah menyelesaikan tugas menjaganya.
Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Walaupun tidak kuat menahan tangis, dia harus terlihat tegar. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakan kita.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

Kamis, 17 Januari 2019

Uang Receh yang Membuat Kita Mengerti Cara Bersyukur

Seorang sahabat Budiman menuturkan kisahnya. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru melangkah keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya dan menyodorkan selembar uang 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu memberi isyarat dengan jari-jari ke mulutnya seraya memandang putrinya. Kemudian pengemis itu memegang kepala putrinya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari ke mulut yang terkuncup , seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kamit tambahansedekah untuk bisa membeli makanan!"
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerakan tangan seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!" Ironisnya meski tidak menambah sedekahnya, istri dan putri Budiman malah mampir ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli camilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman riang dengan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Kemudian uang itu ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.
Ia pun lantas menghampiri wanita pengemis tadi. Saat wanita pengemis menerima uang, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan, "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga!"
Budiman tidak menyangka akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala mendengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga!". Deg! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan.
Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana. Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan, "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah." Awalnya istrinya tidak setuju ketika Budiman memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis tadi. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Buu, aku memberi sedekah kepadanya sebesar itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjang sekali ia berdoa!"
"Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah."
"Buu, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."
Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu.
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al Baqarah : 243)

Nah, tanggapan sobat gimana?

Ingin Cepat Kaya, Wanita ini Melakukan Ritual yang Tak Masuk Akal

Keraton Gunung Kawi
Wanita pengusaha, Sumarminah (65) warga Bukit Cengkeh, Sukmajaya, Depok ditemukan tewas terbunuh. Korban diketahui terlibat hutang cukup banyak saat pernah memiliki bisnis furniture yang akhirnya bangkrut beberapa waktu lalu.J
Jenasahnyaditemukan di Gunung Kapur, Kampung Bulak RT 01/10, Desa Leuweung Kolot, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Aparat menyelidiki, ternyata pembunuhnya adalah pria bernama Solehudin (32) alias Soleh alias Joko Bin Marhadi, warga Kampung Salak, RT 1/10, Desa Bojong jengkol, Kecamatan Ciampea, Bogor.
Gunung Kapur Bogor
Hasil penyelidikan diketahui bahwa sebelum tewas dibunuh, korban janjian dengan pelaku di Gunung Kapur, Cibungbulang, Bogor, untuk melakukan ritual meminta kekayaan alias pesugihan.
Bahkan dari pengakuan tersangka Soleh, ia sempat berhubungan badan dengan Sumarminah yang sudah lansia itu, di kawasan hutan Gunung Kapur, sebelum membunuhnya. Korban mau digauli pelaku karena diiming-imingi sebagai syarat untuk ritual pemanggilan kekayaan atau rezeki.
Korban dan pelaku sudah saling mengenal sehingga janjian bertemu. Soleh mengajak Sumarminah ke kawasan Gunung Kapur untuk melakukan ritual meminta kekayaan. Ujungnya Soleh menculik korban dengan minta tebusan ke keluarga korban.
Karena merasa kenal, tersangka membunuh korban dengan menghantamkan kayu batang pohon ke kepala bagian belakang korban sebanyak 3 kali. Setelah itu, pelaku mempereteli harta benda di tubuh Sumarminah. Termasuk kartu ATM, buku tabungan, dan telepon seluler. Kemudian tersangka menghubungi keluarga korban dan meminta uang tebusan sebesar Rp 10 juta.
Tersangka diancam pasal berlapis dengan tuntutan maksimal hukuman mati.
Ritual Gunung Kemukus
Melihat kejadian itu, beban hutang yang berat seakan sudah menutupi pikiran orang sudah tidak bisa berpikir logis. Segala cara digunakan untuk mendapatkan kekayaan secara instan, mencari pesugihan dengan melakukan ritual-ritual yang diluar batas kewajaran. Mencari pesugihan saja sudah dilarang agama, apalagi melakukan ritual perzinaan jelas dosa yang tidak dapat diampuni. Menurut agama, semua itu hanya tipu daya belaka.
Sobat, untuk mendapatkan hasil harus dilalui dengan kerja keras dan doa, bukan dengan jalan yang malah menyesatkan bukan?

Rabu, 16 Januari 2019

Perayaan Tahun Baru, Antara Pesta dan Musibah


Semarak tahun baru sudah terasa saat ini, dengan beragam persiapan penyambutan. Berbagai kelompok masyarakat sudah menyusun acara kemeriahan tahun baru. Kampung-kampung juga disibukkan dengan merencanakan pesta malam tahun baru.
Di berbagai wilayah akan mengadakan acara kemeriahan, The 1O1 Yogyakarta Tugu mengusung tema “ASTERIX & OBELIX ALL AT THE 1O1 ” & “PIMP MY PINK”. Ancol Taman Impian mempersembahkan serangkaian acara bertajuk ‘Ancol Gempita Festival’.
Daerah lain tidak ketinggalan beragam gebyar tahun baru diagendakan, dengan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan.
Penyambutan tahun baru merupakan acara rutin yang dilaksanakan diberbagai belahan dunia, Indonesia juga tidak ketinggalan karena menggunakan penanggalan Masehi.
Tetapi dalam gegap gempita perayaan tahun baru, Indonesia mengalami berbagai musibah yang menyedihkan. Berbagai wilayah mengalami musibah tanah longsor, dilansir detiknews Desember 2018, tanah longsor di Toba Samosir menewaskan 8 orang, longsor terjang 13 desa di Jember.
Musibah banjir juga melanda berbagai wilayah, di Natam Baru Aceh Tenggara rumah hanyut 21 unit, rusak sedang 1 unit dan rusak ringan 25 unit (Serambinews, 28 Desember 2018). di Desa Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, NTB banjir menggenangi pemukiman warga, dan masih banyak wilayah lain.
Baru-baru ini tsunami menerjang wilayah selat Sunda menewaskan 430 orang, BNPB juga mencatat 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.802 orang yang mengungsi di berbagai daerah (BBCnews, 26 Desember 2018). Sebelumnya juga terjadi gempa bumi dan tsunami di Palu dengan korban 2113 meninggal, korban hilang 1.309 orang, korban luka-luka sebanyak 4.612 orang, pengungsi tercatat ada 223.751 orang, yang tersebar di 122 titik. Dan gempa bumi di Lombok dengan korban 563 meninggal.
Pesta pora menyambut tahun baru melupakan sejenak beban kesedihan yang diderita masyarakat. Tapi dengan perayaan tersebut kita berharap tidak lupa akan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang mendapatkan musibah dan bencana. Pesta tahun baru bisa sedikit menghibur kepedihan, saudara-saudara kita tetap memerlukan bantuan moral dan material untuk sekedar mempertahankan hidupnya.
Mudah-mudahan di tahun 2019 nanti beban saudara kita makin ringan, musibah dan bencana tidak separah tahun ini dan cepat ditangani.
Sahabat semua, kalau kita rasakan penderitaan saudara-saudara yang mendapat musibah, kepedulian kita akan semakin tinggi bukan?

29/12/18

Rabu, 26 Juni 2013

PERJALANAN MENUJU ALLOH

KESUNGGUHAN DALAM MENCINTAI


  1. Al-Ghazali mengumpamakan jiwa manusia bagaikan cermin, Cermin yang mengkilap bisa saja menjadi hitam pekat jika tertutup oleh noda-noda hitam maksiat (dosa) yang diperbuat manusia (QS. Al-Muthaffifin 83 : 14). Apabila seseorang senantiasa menjaga kebersihannya, maka titik noda itu akan hilang dan niscaya cermin itu gampang menerima apa-apa yang bersifat suci dari pancaran Nur Ilahi, dan bahkan lebih dari itu, jiwa tadi akan memiliki kekuatan yang besar dan luar biasa.
  2. Memang diakui bahwa manusia dalam kehidupannya selalu dipengaruhi oleh hawa nafsunya yang selalu ingin menguasainya (QS. Yusuf : 53). Agar hawa nafsu seseorang dikuasai oleh akal yang telah mendapat bimbingan wahyu, maka dalam dunia tasawuf diajarkan berbagai cara, seperti riyadhah (latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh) sebagai sarana untuk melawan hawa nafsunya tadi. Cara pembinaannya melalui tiga tahapan, yakni tahap pembersihan dan pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela (takhalli), tahap kedua ialah penghiasan diri dengan sifat-sifat terpuji (tahalli) dan ketiga tercapainya sinar Ilahi (tajalli).
  3. Mahabbah adalah cinta, dan yang dimaksud adalah cinta kepada Alloh. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain sebagai berikut:
    • Memeluk kepatuhan pada Alloh dan membenci sikap melawan pada-Nya
    • Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
    • Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi, yang dimaksud dengan yang dikasihi disini ialah Alloh. 
Setiap manusia diciptakan sebagai individu yang bebas. Manusia diberi keleluasaan memilih jalan yang ditempuhnya, sebab manusia diberi kesempurnaan berupa hawa nafsu. Dengan hawa nafsu pula manusia melakukan olah pikir dan dapat menciptakan kebudayaan. Tetapi dalam perkembangannya manusia terlena dengan apa yang telah diraihnya, dan tanpa disadari lupa akan kodrat sebagai hamba. Hamba yang diberi bekal dalam melakukan perjalanan diri yang lahir menuju batin, perjalanan menuju Alloh / suluk.
Dalam melakukan suluk seperti apa yang dikatakan imam Al-Ghazali, manusia diliputi hawa nafsu. Hati diibaratkan sebuah cermin, jika nafsu yang mucul adalah kejelekan maka seakan noktah hitam menempel pada cermin tersebut. Noktah-noktah itu adalah hijab pada seseorang yang melakukan suluk. Dengan banyak ber-dzikir lah seseorang dapat menjaga hatinya tetap bersih, sehingga pancaran Nur Ilahi tak terhalang oleh dosa-dosa yang dilakukan hawa nafsu.
Tidak serta merta seseorang bisa menjaga agar hati tetap jernih seperti kemilau cermin, tetapi harus melalui latihan / riyadhah dengan sungguh-sungguh / mujahadah. Dalam melakukan latihan banyak sekali cara yang dilakukan, namun pada pokoknya terdiri dari tiga tahapan : takhalli, tahalli, dan tajalli.
Tahap awal adalah takhalli yaitu pembersiham diri dari sifat-sifat tercela, baik dalam bersikap maupun perbuatan. Seperti dikatakan diatas bahwa hati ibarat cermin, pada tahap ini seseorang melakukan pembersihan hati yang terhijab oleh dosa-dosa yang telah dilakukan dan Alloh pun sangat membeci kekotoran. Sehingga kondisi hati yang bersih itu diharapkan nantinya siap untuk menerima pancaran Nur Ilahi. Kalau kita mau menanam logisnya adalah menyiapkan lahan dengan baik.
Tahap kedua adalah tahalli yaitu menghiasi hati kita dengan kebajikan-kebajikan, karena alloh sangat menyukai akan keindahan. Dengan melakukan perbuatan kebajikan berarti seseorang telah menghiasi hatinya dan menjaga tetap bersih dari kotoran. Setelah menyiapkan lahan, kita olah lahan tersebut dan memberi pupuk supaya nanti tanaman tumbuh subur.
Tahap terakhir adalah tajalli yaitu bersemayamnya pancaran Nur Ilahi dalam hati dan tersingkapnya semua rahasia-rahasia. Pada tahap ini seseorang dapat merasakan nikmat yang hakiki, tersingkap semua rahasia penciptaan, asyik mashuk dalam kedekatan. Dan inilah buah dari perjalanan dengan sepenuh hati mujahadah, tiada daya upaya kecuali atas kehendak Alloh. Persiapan lahan yang baik dengan diiringi pengolahan yang bagus dan pemberian pupuk yang baik juga akan menghasilkan tanaman yang berbuah lebat. Disinilah tersingkap arti mahabbah yang sebenar-benarnya.



Diambil dari berbagai sumber.


Sabtu, 15 Juni 2013

PENYEGARAN OTAK


 Maria Ria  >  Mario Koclok


Om gmn  ya kalo saya sudah nikah tapi ortu gak dikasih tahu................??? (soalnya gk brani bilang)
Trus dampak kedepannya gmn om.....????
Tanxqiyu...terimanasi ....
 ______________________________________________________________________________

Mario Koclok   >  Maria Ria


Dear Maria Ria yang sekarang lagi nikah sama duda lapuk..........................
Orang tua itu adalahsesepuh yang harus kitahormati dan kita jaga kehormatan dan martabatnya...
Kasih sayang orang tua tidak akan luntur sepanjang masa.......
Pengorbanan orang tua terhadap anak tidak dapat dinilai dengan apapun jua......
Keberadaan orang tua tidak dapat tergantikan oleh siapapun juga.....
Jadi sebaiknya anda bilang saja sama orang tua anda jika anda sudah menikah dengan duda lapuk,
begini kira-kira :


"Pak.......saya sekarang sudah menikah dengan duda gk punya anak (kaya raya) penghasilanya 3 milyar belum termasuk warisan dari orang tuanya (karena anak tunggal)............."


"Besuk bapak bisa beli sawah yang luas lalu bikin kandang dan diisi dgn sapi yang banyak buat celengan sekeluarga................"


"Kalo perlu bapak mencalonkan diri saja jadi KADES, agar bapak terkenal dimata masyarakat luas biar nanti saya yang nanggung semua biayanya........."



"" Doakan semoga anakmu dapat dapat duda baru lagi ya pak............!!!!!!! (amin)

Cerita Sarung Lusuh sebagai Barang Kenangan

Dikisahkan seorang ayah yang sedang sakit parah. Beliau merasa ajalnya sudah dekat, dengan tawakal beliau selalu berdoa. Menjelang ajal...